Aktivis Papua Sebut Korban Tewas akibat Konflik di Nduga Capai 182 Orang

Ilustrasi Masyarakat Nduga bersembunyi di hutan selama TNI-Polri melakukan pengejaran kelompok Egianus Kogoya/ VOA

PAPUA – Aktivis Papua mengatakan selama delapan bulan sudah konflik di Kabupaten Nduga berlangsung, sejak serangan terhadap pekerja pembangunan proyek jembatan di jalan Trans Papua, Desember tahun lalu, jumlah korban tewas lebih dari data yang dilaporkan Kementerian Sosial.

Kemensos mencatat 53 orang meninggal selama konflik, tetapi Theo Hesegem aktivis dari Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga mengatakan jumlah korban tewas jauh lebih besar. Theo mengatakankepada VOA, jumlah korban tewas mencapai 182 orang. Ia mengatakan, timnya sudah memeriksa setiap nama dan menjamin datanya lebih valid.

“Kami, setelah mengumpulkan data ini, kemudian kita klarifikasi dan identifikasi dengan seluruh Hamba Tuhan, pendeta dan masyarakat. Kita paparkan di depan mereka untuk klarifikasi semua itu, dan seluruh Hamba Tuhan menyatakan bahwa nama-nama korban itu dibenarkan, dan Hamba Tuhan dan pendeta itu mengatakan, itu umat kami dan kami tahu bahwa mereka memang sudah meninggal,” kata Theo yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua.

Theo berada di Wamena dan mengaku khusus untuk korban di sekitar daerah itu, dia telah mendatangi, mengambil foto korban atau makam mereka.

Menurut data yang dikumpulkan tim investigasi, korban konflik Nduga ini ada yang meninggal di hutan, di tempat pengungsian ataupun tempat tinggal mereka sendiri. Penyebabnya, antara lain sakit, kelaparan dan tertembak. Ada beberapa bayi baru lahir yang meninggal, begitu pula ibu-ibu yang baru saja melahirkan. Semua karena kondisi hutan yang tidak mendukung, terutama cuaca dingin yang harus dihadapi tanpa perlindungan layak.

“Yang meninggal di hutan, sebagian sakit karena kedinginan. Anak-anak kecil itu, ada yang tidak makan sehingga menyebabkan sakit dan kemudian meninggal. Apalagi daerah itu cukup dingin, di hutan anak-anak kecil berumur 1-2 tahun itu tidak akan bisa bertahan. Sehingga kalau sampai berbulan-bulan konflik, kondisi itu mengakibatkan anak-anak itu meninggal dunia,” tambah Theo.

 

Advertisement