UNICEF Desak Myanmar Berikan Pendidikan bagi Anak Pengungsi Rohingya

Anak Rohingya menggambarkan kekerasan yang dilakukan militer/ Getty

BANGLADESH – Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengatakan lebih dari setengah juta anak pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, tidak memperoleh pelajaran keterampilan hidup yang mereka butuhkan untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa depan.

Badan PBB untuk Dana Anak-Anak (UNICEF) melaporkan, lebih dari seperempat juta anak hingga usia 14 tahun mendapat pendidikan non-formal, sementara lebih dari 25 ribu lainnya tidak mendapat pendidikan.

Penulis laporan UNICEF , Simon Ingram, mengatakan remaja paling terimbas. Menurutnya, 97 persen anak, usia 15 hingga 18 tahun, tidak bersekolah, membuat mereka berisiko.

“Kalau kita menemui remaja-remaja di kamp, mereka berbicara tentang bahaya yang mereka hadapi, terutama pada malam hari, ketika pengedar Narkoba beroperasi, dan perkelahian antar-geng dilaporkan rutin terjadi. Kasus-kasus perdagangan manusia juga dilaporkan, meskipun sulit diketahui. Kamp bisa sangat membahayakan bagi anak perempuan dan perempuan,” kata Ingram, dikutip VOA, Senin (19/8/2019).

Dia menambahkan jika UNICEF mengimbau pemerintah Myanmar agar memberi pendidikan kepada anak-anak di kamp-kamp pengungsi. Sampai sekarang, ia mengatakan, anak-anak telah diajarkan bahasa Birma oleh guru sukarela dari populasi pengungsi.

“Dengan niat terbaik di dunia sekalipun, itu tidak sama dengan menghadirkan guru yang terlatih dengan baik, orang yang berpengalaman menyampaikan kurikulum pemerintah Myanmar sendiri. Jadi, itulah yang benar-benar kami inginkan dan itulah yang saat ini sedang kami bicarakan dengan pemerintah Myanmar dan kami berharap, kami akan menerima tanggapan positif,” tambahnya.

 

Advertisement