Adu Ide Calon Penguasa Betawi

debat publik pertama paslon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta (13/1)

DEBAT publik pertama tiga pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Jumat (13/11) berjalan mulus dan dinilai banyak pihak cukup bermutu dan menyentuh visi, misi, ide dan program kerja masing-masing.

Tidak ada isu bernuansa SARA yang diangkat, begitu juga saling-serang terkait sentimen pribadi. Ketiga paslon dalam debat lima sesi bertemakan “Pembangunan Sosial Ekonomi Jakarta” menyampaikan visi, misi, gagasan serta program untuk membangun Jakarta jika mereka terpilih nanti.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berduet dengan Sylviana Murni  dengan nomor urut 1 langsung menggebrak dengan mengangkat persoalan klasik yang dihadapi ibukota yakni banjir, kemacetan lalulintas dan tumpukan sampah yang belum teratasi oleh gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Menurut Agus, pembangunan Jakarta saat ini mengabaikan kepentingan kelompok marginal, bahkan penggusuran yang dilakukan di era kepemimpinan Ahok membuat rakyat takut terhadap pemerintah daerah yang seharusnya menjadi pengayom mereka.

Duet AHY – Sylvi menawarkan 10 program unggulan mereka jika terpilih nanti seperti pemberian bantuan langsung Rp5 juta per tahun bagi setiap keluarga miskin, Rp 1 milyar untuk pemberdayaan RW dan Rp 50 juta dana bergulir   untuk setiap unit usaha.

“Kami akan bangun Jakarta tanpa menggusur dan akan menciptakan keadilan bagi seluruh warga, justice for all”, ujarnya dengan penuh percaya diri.

Pengamat politik Karim Suryadi menilai, walaupun tidak memiliki pengalaman  sebagai birokrat, Agus sebagai militer profesional diharapkan mampu mentransformasikan kepemimpinan militernya untuk membangun Jakarta.

Sebagai paslon wakil gubernur, menurut Karim, Sylviana yang sudah malang-melintang sebagai birokrat dan paham akan “isi perut” jajaran Pemrov DKI Jakarta,  diharapkan  memberikan andil besar untuk membenahi dan memperbaiki manajemen institusi tersebut.

 

Sasaran tembak

Sedangkan paslon petahana dengan nomor urut 2, Ahok-Djarot, di satu sisi bagaikan berada di dataran luas , menjadi “sitting duck” atau sasaran tembak oleh lawan-lawannya yang lebih mudah mencari-cari kelemahan, persoalan  atau pekerjaan yang belum diselesaikannya.                                 Di sisi lain,  paslon petahana lebih percaya diri karena merasa mampu membuktikan hasil kinerjanya yang bisa dinikmati oleh masyarakat banyak.

Ahok yang mewakili calon petahana bersama wakilnya Jarot menekankan prinsip “bersih, transparan dan profesional” di jajaran pemda DKI Jakarta.

Bagi rakyat Jakarta, ujarnya, ang penting adalah “dompet”, “perut” dan “otak”. Maksudnya, setiap warga Jakarta harus berkecukupan, sejahtera sandang dan pangan serta mendapatkan akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas mereka.

Menyadari sikap “ceplas-ceplos”-nya yang sering dijadikan “peluru” oleh lawan-lawan politiknya, Ahok berjanji akan mengubah sifatnya itu dengan terus memperbaiki diri, belajar dari pasangan duetnya, Djarot yang berpembawaan lebih santun dan tenang.

Sedangkan pasangan dengan nomor utur 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menekankan pentingnya upaya mengatasi ketimpangan sosial, integrasi angkutan massal dan pengendalian harga kebutuhan pokok.

Saling mengkritisi ide, gagasan  atau program paslon lain atau mempertahankan argumentasi masing-masing terjadi di sesi 4 dan sesi 5 yang memang disediakan oleh panitia debat.

Anies menilai, program bantuan langsung dan dana bergulir yang diusung dalam program kedua pasangan lainnya, tidak memadai, karena hanya sebatas memberikan “kail” atau “ikan”.

“Jika terpilih nanti, kami akan sediakan “kolam”-nya juga, “ kata Anies. Yang ia maksudkan ialah menciptakan lapangan kerja,  dengan meningkatkan mutu SDM  melalui pelatihan-pelatihan atau program pendidikan.

Saling kririk

Baik Anies dan Agus juga sama-sama mengritik tajam aksi-aksi pengusuran atau relokasi yang dilakukan selama kepemimpinan Ahok.

“Mana janji untuk mendirikan Rumah Deret di Kampung Duri yang warganya tergusur?, “ tanya Anies, sementara Agus menyebutkan sampai saat ini warga yang tergusur masih meratapi nasibnya.

Bisa dibayangkan, lanjut Agus, warga yang semula turun temurun tinggal di wilayah itu digusur paksa ke rumah susun yang berjarak puluhan kilometer dari tempat asal mereka. Sekarang sebagian mereka tergusur lagi karena tidak mampu membayar sewa rumah susun.

Ahok menyanggahnya. “Keliru, jika paslon membela orang bersalah demi memenangkan Pilkada, “ ujarnya. Menurut Ahok, rakyat yang tinggal di bantaran atau pinggir kali jelas salah sehingga mereka harus direlokasi ke tempat yang lebih aman dan layak.

Setiap keluarga miskin ber-KTP Jakarta, menurut Ahok, mendapat bantuan Rp600.000 perbulan per orang, selain itu mereka juga mendapatkan fasilitas kartu gratis berobat, biaya  pendikan Rp18 juta setahun (untuk kuliah di PTN) dan naik kendaraan umum gratis.

Sebaliknya Ahok menilai, program pasangan Anies-Sandiaga terkait penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan mutu pendidikan tidak realistis, mustahil diwujudkan.

Menurut Ahok, sesuai dengan latarbelakang Anis sebagai dosen, yang disampaikan sangat teoritis. “Pak Anies saat menjabat  menteri pendidikan juga  tidak mau mendengarkan usulan Kepala  Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso  untuk memasukkan materi bahaya narkoba dalam kurikulum di sekolah-sekolah, “ tuturnya.

Debat publik ketiga pasangan wagub dan cawagub DKI Jakarta akan diselenggarakan lagi pada 27 Januari dan 10 Februari, sebelum hari “H” pilkada serentak yang akan diselenggarakan pada 15 Februari.

Para calon pemilih agaknya perlu diingatkan agar memilih calon yang amanah, jujur dan berkomitmen kuat menyejahterakan rakyat. Gunakan akal sehat, buang  sifat emosional dan jangan terbuai janji-janji kosong.

Selebihnya, pilihan di tangan anda!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement