Agar Distribusi Bantuan Bernapas Panjang

LANGSA –  Musholla Kuala Langsa, Jl. Pelabuhan Kuala Langsa,  adalah saksi sejarah ketika lembaga-lembaga kemanusiaan, lembaga zakat dan dermawan bersinergi dalam membantu pengungsi Rohingya yang tercampak dari negeri kelahirannya.

Mereka melarikan diri dari kejahatan rasis yang membakar rumah-rumah mereka dan membunuh anggota keluarga serta memberlakukan mereka tidak manusiawi. 

Hari Rabu (27/5/2015) lembaga kemanusiaan sepakat untuk bersinergi membantu mereka. Konsolidasi untuk bersinergi antar lembaga ini diinisiasi oleh Asosiasi Organisasi Pengelola Zakat Indonesia, Forum Zakat (FOZ) yang dipimpin oleh Nur Efendi yang juga CEO Rumah Zakat. Bertindak sebagai Panitia Pelaksana Amin Sudarsono, yang sehari-hari menjabat Kepala Sekretariat FOZ Pusat.

Berikut wawancara KBK dengan Presiden FOZ Nur Efendi setelah kesepakatan bersinergi itu tercapai.

Bagaimana menurut Anda dengan terjalinnya sinergi dan koordinasi antar lembaga kemanusiaan (NGO) dalam membantu menyelesaikan masalah pengungsi Rohingya?

Gagasan ini sangat efektif dan efisien, kita sudah coba bersinergi membantu pengungsi di Sinabung, Kelud dan Banjar Negara. Kita lihat, distribusi bantuan  tidak separuh nafas. Tapi bisa lebih panjang. Dengan sinergi dan koordinasi napas lembaga kemanusiaan bisa lebih panjang. Bantuan dapat lebih terstruktur dan distibusinya juga tidak tumpang tindih, tidak berlebihan dan tepat sasaran.

Apa hasil kesepakatan sinergi yang diusulkan lembaga kemanusiaan?

Saya sangat apresiasi teman-teman yang ikut rapat di Langsa ini, kesepakatan teman-teman membantu pengungsi Rohingya berupa relief. Sifatnya bantuan langsung berupa kesehatan, pendidikan, keterampilan, ekonomi dan fisik seperi hunian sementara. Bantuan dibagi per cluster, masing-masing lembaga berperan di cluster yang mereka minati. Jadi masing-masing lembaga akan fokus dan tidak ada lembaga yang mengerjakan semua cluster.

Kesepakatan dalam pertemuan antar menteri luar negeri, Indonesia akan membantu pengungsi Rohingya dalam satu tahun. Menurut Anda apa yang harus dilakukan lembaga yang peduli Pengungsi Rohingya di Indonesia ini?

Ini adalah langkah kedua yang disepakati antar lembaga yang peduli Rohingya. Ini adalah masalah strategis. Untuk ini lembaga kemanusiaan di Indonesia yang sudah bersinergi ini akan menjalin kerjasama dengan pemerintah.

Lembaga kemanusiaan di Indonesia meminta supaya pengungsi Rohingya ini dapat diterima sebaik-baiknya sebagai pengungsi di Indonesia, bahkan ada yang mengusulkan agar diterima menjadi warga negara Indonesia.

Kalau kita kembalikan mereka ke Myanmar tentu tidak mungkin, karena mereka di sana sangat minoritas dan secara politik tidak mungkin untuk kembali lagi.

Bagaimana cara memperjuangkan pengungsi Rohingya di pemerintah dan tingkat ASEAN?

Kita akan advokasi bersama dengan Kementerian Luar Negeri, bagaimana agar pengungsi Rohingya ini mendapat kewarganegaraan di Asia Tenggara. Sejauh ini Bahkan Menteri Sosial sudah mendukung dengan mengalokasikan bantuan 2,3 miliar. Itu merupakan bagian dari dukungan pemerintah, dan ini positif sekali.

Selanjutnya, advokasi ini di lakukan di tingkat ASEAN di anggota-anggota ASEAN, tuntutan lembaga kemanusiaan Indonesia tentunya meminta Myanmar keluar dari Anggota ASEAN karena membiarkan kejahatan kemanusiaan berlaku di negaranya. Termasuk memberikan sanksi di tingkat pengadilan internasional. Ini secara strategis yang kita lakukan dalam 1 tahun tenggat ini.