
NATUNA – Ahli geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Anjar Heriwaseso, mengungkapkan bahwa kemungkinan terjadinya longsor di Pulau Serasan masih ada jika terjadi curah hujan yang tinggi.
Menurut Anjar, tanda-tanda longsor bisa diamati dengan perubahan warna air sungai menjadi kuning atau berlumpur ketika hujan lebat terjadi.
“Tandanya bisa kita lihat dengan air sungai berubah warna menjadi kuning, atau berlumpur ketika terjadi hujan lebat, dan itu patut diwaspadai,” kata Anjar di Serasan, Senin (13/3/2023).
Ia juga menginformasikan bahwa beberapa bukit atau gunung di Serasan telah mengalami keretakan yang perlu diwaspadai untuk mencegah terjadinya bencana longsor.
Anjar menekankan bahwa retakan pada bukit atau gunung tersebut harus segera ditutup dan informasi tersebut harus disampaikan ke warga sekitar.
“Itu tanda, retakan itu harusnya ditutup, informasi seperti ini yang harus disampaikan ke warga lainnya, sebenarnya warga yang lebih mengetahui daerahnya sendiri, tinggal bagaimana langkah mitigasi bencana itu dilakukan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa potensi longsor di Pulau Serasan sangat tinggi, sehingga warga yang tinggal di daerah rawan perlu mewaspadai jika curah hujan lebih dari tiga hari.
Selain itu, Anjar juga menyampaikan bahwa potensi gempa bumi tidak ditemukan di daerah Natuna termasuk Pulau Serasan, sehingga pemicu utama terjadinya longsor di Pulau Serasan adalah curah hujan dan beberapa faktor lainnya seperti aktivitas manusia.
Ia menambahkan bahwa pemotongan atau pemangkasan bukit juga dapat menyebabkan longsor karena dapat mengurangi kestabilan tanah.
“Pemicu timbul korban akibat longsor selain curah hujan tinggi, adanya pemotongan, atau pemangkasan bukit bisa juga menjadi penyebab karena akan mengurangi kestabilan tanah,” kata Anjar.
Di Pulau Serasan terdapat banyak pemukiman yang berada di lereng tebing atau tepi sungai, yang memperbesar potensi terjadinya bencana longsor.
Menurut Anjar, bencana longsor di pulau tersebut disebabkan oleh hujan, aktivitas manusia seperti pemotongan tebing, dan tingkat erosi yang tinggi di daerah tersebut.
“Utamanya karena hujan, ada juga karena aktivitas manusia, pemotongan tebing dan di pulau ini tingkat erosinya tinggi,” kata dia.
Anjar juga menjelaskan bahwa tanda-tanda akan terjadi bencana longsor dapat dilihat jauh sebelum terjadinya, seperti perubahan warna sungai dan pergerakan tanah.
Contohnya, bencana longsor di Desa Pangkalan memiliki pola jalur longsor yang jelas dan tanda-tanda sebelum kejadian. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami jalur longsor dan tanda-tandanya.
“Kita harus memahami jalur longsor dan tanda-tanda, untuk kasus di Genting ternyata sudah ada tanda sebelum terjadinya longsor,” kata dia
Pulau Serasan juga rentan terhadap bencana banjir bandang, jatuhan batu atau hujan batu, serta erosi. Oleh karena itu, sebagai upaya pencegahan, Anjar menyarankan untuk menutup retakan yang telah ada agar air tidak masuk ketika hujan, dan membuat jalur air yang menjauh dari retakan.
“Jangan sampai air masuk ke,dalam retakan, buat jalur air dengan menjauhkan dari retakan, karena warga pasti mengenali lahan mereka masing-masing, kejadian longsor sifatnya terus berulang,” kata Anjar.
Anjar menekankan pentingnya masyarakat untuk memahami alam dan melakukan mitigasi bencana. Pulau Serasan memiliki banyak kandungan air dan bebatuan, sehingga masyarakat setempat harus mengenal alam dan tidak memaksakan kehendak ketika membangun sesuatu.
Sumber: Antara



