AI Membunuh Alvaro Diduga Bermotif Dendam

AI (49) , tersangka pelaku pembunuh bocah Alvaro, tewas diduga bunuh diri di ruang konseling Mapolres Jakarta Selatan, Minggu dini hari (23/11) (ilustrasi: Youtube)

POLISI mengungkap  motif tersangka (AI, 49 tahun) menculik dan membunuh anak tirinya Alvaro Kiano Nugroho (6) yang raib selama delapan bulan hingga jasadnya ditemukan di wilayah Tenjo, Bogor, Jawa Barat, Minggu lalu (2311).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebut dari hasil pemeriksaan alat bukti digital pelaku diduga memiliki dorongan balas dendam terhadap ibu Alvaro lantaran kesal merasa diselingkuhi. Pelaku sendiri tewa diduga gantung diri di ruang concelling, Mapolda Jakarta Selatan, Minggu (23/11) dinihari.

“Penyidik menemukan adanya indikasi kuat dorongan pelaku gimana caranya balas dendam (karena kesal diselingkuhi). Ini muncul berulang kali, karena sakit hati ” kata Budi di Polres Jakarta Selatan, Senin (24/11).

Budi mengatakan karena motif itulah pelaku menculik anak tirinya di sebuah masjid wilayah Pesanggrahan, pada 6 Maret 2025. Pada saat penculikan, ia menyebut korban tak berhenti menangis. Pelaku yang kesal kemudian membekap Alvaro hingga meninggal dunia.

Budi menjelaskan, pelaku kemudian menaruh jasad korban di garasi mobil rumahnya selama tiga hari setelah menculik korban. Alex kemudian menaruh jasad Alvaro ke dalam plastik warna hitam dan membawanya ke kawasan Tenjo, Bogor untuk dibuang.

“Pelaku membungkus jenazah dengan tas plastik berwarna hitam dan membuang di wilayah Tenjo, di Jembatan Cilalay pada 9 Maret 2025 pada malam hari atau 3 hari setelah diketahui AKN (korban) hilang,” kata Budi.

Cemburu
Sebelumnya kakek Alvaro, Tugimin juga menyebut Alex cemburu pada istrinya bernama Arum yang menjadi TKW di Malaysia sehingga melampiaskan dendam pada Alvaro.

“Cemburu sama istrinya, kalau telepon enggak diangkat, dianggapnya istrinya selingkuh, main sama laki-laki lain,” kata T ugimin kepada wartawan di Jakarta, Senin (24/11).

Terlebih, Arum tetap berangkat ke Malaysia walaupun sudah dilarang oleh Alex.

“Dalam kecemburuan, akhirnya timbulnya dendam. Dan waktu itu enggak boleh kerja keluar ke Malaysia, tapi berangkat juga,” kata Tugimin.

Keluarga Ungkap Tersangka Sempat Bantu Cari Alvaro ke Polsek dan Dukun
Tewas di penjara
Alex sudah ditangkap dan dijadikan tersangka dan ditahan. Namun saat proses pemeriksaan sebagai tersangka, Alex disebut meninggal dunia karena diduga bunuh diri.Polisi hingga belum menjelaskan secara detil penyebab kematian Alex.

“(Meninggalnya) Sudah di dalam tahanan,” kata Kepolres Jaksel Nicolas Ary Lilipaly kepada wartawan di Satlat Brimob, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/11). “Detailnya nanti,” ujarnya.

Raib sejak 6 Maret

Alvaro Kiano Nugroho dinyatakan hilang sejak 6 Maret lalu. Peristiwa bermula saat Alvaro izin untuk melaksanakan shalat Maghrib di masjid dekat rumahnya di kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Namun, selepas shalat Maghrib ternyata Alvaro tak kunjung pulang. Sehingga, keluarga mencari keberadaannya dan temannya mengaku tak bersamanya saat shalat.

Tersangka sebelum dicokok polisi juga pernah membantu mencari kakek Alvaro ke kantor polisi dan juga ke seorang dukun.

Begitu mudahnya nyawa melayang di negeri ini, dengan berbagai motif dan pemicu seperti , cemburu, perselingkuhan dan motif ekonomi sedangkan pelakunya juga terkadang orang dekat korban, seperti suami, saudara, kekasih, sementara profesi pelakunya, ada yang oknum TNI, Polri bahkan dalam ksus bullying sering sesama siswa teman di kelas atau sekolah.

Sementara Ketua DPR RI Puan Maharani menilai saat ini isu terkait keselamatan anak masuk kategori darurat.

“Hal-hal seperti ini memang bukan hanya tanggung jawab dari keluarga atau sekolah, tetapi  juga tanggung jawab dari negara,” kata putri Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri itu.

DPR, kata Puan, meminta kepada seluruh stakeholder yang terkait untuk bisa menindakanlanjuti persoalan kepatutan Alvaro secara serius.

Aksi mitigas dan antisipasi agar korban pembunhan tidak terus berjatuhan harus dilakukan secara sistematis, terstruktur dan terpola dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan: aparat penegak hukum, pendidik, tokoh-tokoh agama dan masyarakat,psikolog, dan juga masyrakat luas.

Begitu mudahnya, orang menghabisi nyawa orang lain, menunjukkan kondisi masyarakat yang dalam kondisi “tidak baik baik saja”.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here