AKSI kekerasan sadis yang mengakibatkan lima nyawa melayang terjadi di kawasan Pulomas, Jakarta Timur di penghujung tahun ini.
Berbagai tindak kriminalitas semakin marak, modus operandinya semakin beragam dan canggih, seangkan tingkat kebrutalannya pun semakin sulit diterima akal sehat.
Entah sengaja untuk “menghabisi”, atau hanya ingin menyekap korban, empat pelaku tega-teganya menjebloskan 11 orang, pemilik rumah dan lima anaknya serta seorang teman mereka, dua pengemudi dan dua pembantu ke dalam ruang toilet berukuran 2,25 meter persegi.
Dodi justeru baru tiba di kediamannya beberapa menit saat pelaku mulai beraksi, sehingga ia pun ikut disekap di toilet bersama kesepuluh korban lainnya.
Bisa dibayangkan bagaimana proses kelima korban meregang nyawa, berhimpitan di ruang toilet sempit selama berjam-jam dari Senin sore (26/12) hingga Selasa pagi.
Selain bersesak-sesak, menahan lapar dan hanya bisa melepas dahaga dengan minum air keran, para korban juga kesulitan bernafas karena pasokan oksigen hanya tersisa dari celah kecil antara daun pintu dan lantai. Seluruh ruangan setinggi dua meter itu tertutup rapat oleh beton.
Saat salah satu rekan anak pemilik rumah, Sheila Puteri tiba di rumah itu, Selasa, sekitar pukul 09.25 pagi pintu gerbang dalam keadaan terbuka dan saat masuk ke rumah ia mendengar rintihan orang minta tolong dari dalam kamar mandi di bawah anak tangga.
Sheila memanggil aparat dan warga sekitar yang kemudian mendobrak kamar mandi dan membesaskan para korban. Sayangnya, nyawa lima korban tidak tertolong karena berjam-jam kekurangan pasokan oksigen.
Korban meninggal adalah pemilik rumah, Dodi Triono (59), arsitek dan pengusaha properti, dua puterinya, Diona Arika Andra Putri (16) dan Dianita Gema Dzalfayla (9), Amel (10, sahabat Gema) dan dua pengemudi,(Yanto dan Tarsok ( 40).
Kekurangan oksigen
Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan memastikan, korban meninggal akibat kekurangan oksigen, akibat dikurung di ruang sempit yang pengap dan tanpa ventilasi udara.
Kelima korban yang selamat yakni kakak Gema, Zanette Kalila Azaria (13), Emi (41) dan Santi (22), pembantu yakni Fitriani dan Windi (masing-masing 23) yang sampai saat ini masih dirawat di RS Kartika, Pulomas.
Pelaku yang juga pemimpin komplotan, Ramlan Butar Butar tewas disambar timah panas karena melawan saat hendak dibekuk polisi di kawasan Rawalumbu, Bekasi sedangkan rekannya, Erwin Situmorang tertembak kakinya. Alvin Sinaga dicokok di Bekasi Utara, sedangkan seorang lainnya, Yus Sitorus masih buron.
Semula polisi mengesampingkan motif perampokan, mengingat belum diketahui ada harta benda yang hilang, namun setelah setelah identitas pelaku terungkap dan berhasil dibekuk, ternyata mereka “pemain” lama spesialis perampokan rumah mewah.
Untungnya para pelaku hanya memutus kabel dan membawa alat perekam TV pemantau (CCTV), sementara hasil rekamannya ditinggal, sehingga polisi dengan mudah mengenali, kemudian secepatnya meringkus mereka.
Kasus kekerasan, marak
Kasus perampokan rumah mewah dan penyanderaan pemilik rumah juga terjadi di Pondok Indah, Jakarta Selatan September lalu walaupun gagal dan pelakunya bisa diringkus polisi segera.
Kasus mengenaskan lain terjadi atas kematian bocah balita , Adnan Al Ghazali yang dianiaya di depan ibu kandungnya (Wah) oleh teman selingkuhan ibunya tersebut di Tangerang, pertengahan November lalu, begitu pula dengan Dafa dan Sania yang dianiaya ibu tirinya di Tangerang Selatan.
Kekerasan di kalangan remaja yang terjadi Desember ini, a.l. penyerangan oleh sejumlah murid SMA di kawasan Bantul terhadap siswa SMA Muhammadiyah Yogyakarta yang menyebabkan seorang siswa meninggal dan tujuh lainya mengalami luka-luka.
Tujuh siswa SD Negeri Sabu Barat saat berada di dalam kelasnya terluka akibat sabetan senjata tajam membabi-buta yang dilakukan oleh IR (32).
Di Bengkulu 14 pria dewasa membunuh siswi sekolah, Yuyun setelah puas melampiaskan nafsu biadabnya Mei lalu.
Di jalan-jalan raya di berbagai tempat di Indonesia, aksi begal motor dan geng bermotor terus menebar teror yang memakan korban, tidak terhitung jumlahnya.
Aksi-aksi kekerasan di Indonesia – sebagian bisa dikategorikan sebagai tindakan sadis atau biadab – harus dihentikan, karena selain merenggut nyawa orang-orang tidak berdosa, juga menciptakan stigma keamanan yang buruk terhadap Indonesia.
Di jajaran polisi, reward dan punishment harus diberlakukan terhadap kinerja mereka mulai dari kepala pos polisi, sektor, polres, polwil/poltabes sampai kapolda dan seterusnya.
Penegak hukum dan lembaga peradilan yang tegas serta berwibawa, juga untuk membuat lapas sebagai tempat pembinaan dan pusat pertobatan – bukan malah menjadi tempat mencari komplotan baru atau pusat pelatihan untuk mengulangi kejahatan – perlu diciptakan.
Keamanan lingkungan perlu ditingkatkan , mulai dari ketetanggaan dengan siskamling, kelurahan atau sekolah, melibatkan Karang taruna, Pencalang seperti di Bali, Pramuka atau parpol/ormas seperti dilakukan Pemuda Ansor, dalam pengamanan gereja pada peringatan Natal.
Kemudahan dan fasilitas bagi korban aksi kriminalitas seperti perawatan gratis seumur hidup, pemberian beasiswa dan tunjangan lainnya perlu pula dipertimbangkan.
Indonesia sudah mengalami gawat darurat aksi kejahatan, sehingga segenap instansi terkait dan seluruh elemen bangsa harus bersatu padu mencegahnya.
.





