DHAKA – Jumlah korban tewas akibat aksi protes mahasiswa terhadap sistem kuota pemerintah untuk pekerjaan publik di Bangladesh meningkat menjadi 39 orang pada Jumat (19/7/2024), menurut laporan kepolisian kepada Anadolu.
Sebagian besar korban tewas dilaporkan terjadi di Ibu Kota Dhaka, dengan jumlah korban luka yang juga terus bertambah, menurut sejumlah sumber yang berbicara kepada koresponden Anadolu di Dhaka.
Protes terhadap sistem kuota 56 persen dalam pekerjaan publik di negara Asia Selatan tersebut semakin memanas pekan ini, menyusul penutupan lembaga pendidikan di seluruh Bangladesh oleh pemerintah. Namun, para mahasiswa menolak untuk meninggalkan kampus mereka.
Sekitar 30 persen dari kuota 56 persen pekerjaan publik diperuntukkan bagi putra dan cucu para pejuang yang berpartisipasi dalam perang pembebasan Bangladesh pada tahun 1971.
Kamis (18/7/2024), internet seluler dan konektivitas broadband di Bangladesh terputus, dan akses media sosial juga telah dibatasi.
Sekretaris jenderal partai Liga Awami yang berkuasa menawarkan dialog dengan para mahasiswa, namun tawaran tersebut ditolak. Tawaran tersebut mencakup pengurangan kuota pekerjaan publik menjadi 20 persen.
Demonstrasi yang disertai kekerasan ini juga menyebabkan sebagian besar kegiatan perdagangan dan usaha di Dhaka ditutup.
Pemerintah telah mengumumkan pembentukan komisi yudisial untuk menyelidiki para korban tewas. Pada Kamis sebelumnya, para pengunjuk rasa juga membakar gedung stasiun TV milik pemerintah di Dhaka.





