Angka Kelahiran di Timteng Turun Drastis

Tidak hanya di Barat dan negara-negara maju lain, penurunan angka kelahiran juga berlangsung di kawasan Timur Tengah ( foto: Khaleed Times)

TAK hanya di negara-negara Barat dan negara industri maju di Asia seperti China, Jepang dan Korea Selatan, namun di negara-negara kawasan Timur Tengah pun angka kelahiran anjlok.

Deutsche Welle melansir, para ahli menyebut sedang berlangsug “revolusi senyap” di kawasan Timur Tengah, tetapi bukan revolusi diwarnai aksi-aksi unjuk rasa di jalanan atau tumbangnya pemerintahan, melainkan perubahan diam-diam di dalam rumah tangga.

Revolusi ini berkaitan dengan menurunnya tingkat kesuburan. Hampir di seluruh negara Timur Tengah, jumlah kelahiran anak dari perempuan dalam usia subur menurun drastis dalam dua hingga tiga dekade terakhir.

Tingkat Kesuburan Total (TFR), yang merujuk pada jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan antara usia 15 dan 49 tahun, telah berkurang lebih dari setengahnya di Timur Tengah sejak tahun 1960-an.

Perempuan di wilayah ini dulu rata-rata melahirkan sekitar tujuh anak, tetapi pada awal 2010-an, turun menjadi tiga, namun merosotnya angka kelahiran bukan alah perempuan, tapi Sistem Sosial yang tidak mendukung.

Penurunan tingkat kesuburan merupakan fenomena global. Namun, pada tahun 2016, para peneliti melaporkan bahwa Timur Tengah mengalami penurunan tingkat kesuburan terbesar di dunia dalam 30 tahun terakhir.

TFR turun dalam satu dekade

Selama 10 tahun terakhir, angka-angka tersebut terus menurun. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Middle East Fertility Society pada Oktober tahun lalu menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan Timteng  mengalami penurunan TFR antara 3,8 persen hingga 24,3 persen antara tahun 2011 dan 2021.

Angka penurunan tertinggi besar terjadi di Yordania, Irak, dan Yaman. Menurut data Bank Dunia, pada tahun 2023, lima dari 22 negara anggota Liga Arab memiliki TFR di bawah 2.1.

Angka kelahiran per orang yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat populasi dan empat negara lainnya mendekati angka tersebut.

Misalnya, Uni Emirat Arab memiliki TFR hanya 1.2, jauh di bawah tingkat penggantian populasi. Angka tersebut bahkan lebih rendah daripada beberapa negara Eropa.

Pada tahun 2024, TFR nasional Jerman diperkirakan sebesar 1.38 anak dari setiap perempuan usia subur.

Dulu punya banyak anak dipandang sebagai cara untuk menjamin masa tua. Kini, di negara-negara kaya minyak, tanggung jawab itu telah beralih kepada negara melalui program jaminan sosial.

Para ahli telah mengajukan sejumlah hipotesis mengenai mengapa hal ini terjadi. Hipotesis-hipotesis ini umumnya terbagi menjadi dua kategori yang saling terkait: ekonomi dan politik, atau sosial dan budaya.

Kategori pertama mencakup hal-hal seperti perang dan ketidakpastian politik, orang tidak ingin membawa anak ke dunia yang tidak aman.

Perubahan ekonomi, termasuk penghapusan subsidi di Mesir dan Yordania, inflasi dan berkurangnya pekerjaan di sektor publik di negara-negara penghasil minyak, ikut mempersulit orang tua  membiayai pernikahan  anak-anak mereka.

Perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan turut menjadi faktor utama bagi pasangan muda di Timur Tengah, yakni kawasan yang mengalami pemanasan lebih cepat dibanding banyak wilayah lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir masyarakat Timteng keranjingan junk food, namun belum ada hasil penelitian yang menyebutkan, hal itu mempengaruhi tingkat kesuburan mereka.

Bisa jadi, para perempuan Timteng meniru rekan segendernya di Eropa dan Amerika yg ingin lebih bebas di luar rumah. Wallahualam!

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here