APDC, Percepatan Solusi Stunting di Wilayah NKRI

Pandemi Covid-19 berdampak multilintas aspek, termasuk kekurangan gizi dan meningkatnya stunting. Dompet Dhuafa luncurkan Gerakan APDC untuk percepatan solusi.

Dompet Dhuafa dan PT Paragon Gelar Penyuluhan Stunting di Masa Pandemi/ Foto: Muthohar

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus stunting tertinggi di Asia. Artinya, kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak balita di Indonesia masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

“Angka 30,8 persen itu tinggi. Pemerintah sendiri menargetkan untuk menurunkan hingga di bawah 20 persen, itu perlu upaya yang lebih keras. Kalau enggak bersama-sama mungkin akan kewalahan,” ujar Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih di sela Penyuluhan Kesehatan tentang Stunting dan Kesehatan Reproduksi Remaja IDI di Taman Ekspresi Kota Bogor, Oktober 2019 lalu.

Apalagi di saat pandemi Covid-19 ini, di tengah angka penularan yang terus meningkat dampak yang dirasakan masyarakat juga semakin terasa berat termasuk pada stunting.

Selain itu, Covid-19 membawa dampak multi lintas pada seluruh aspek kehidupan umat manusia tanpa memandang status gender, usia, kewarganegaraan, kebangsaan, agama, dan ideologi.

Hal ini mendasari, Inisiator dan Ketua Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi menggagas program Aksi Peduli Dampak Corona (APDC) yang focus kepada percepatan solusi Stunting di Indonesia.

“Aksi Peduli Dampak Corona (APDC) merupakan bentuk nyata filantropreneur di masa pandemi demi ketahanan ekonomi skala keluarga.,” terangnya dalam launching gerakan ini di Jakarta, September lalu.

Dilanjutkannya, aktivitas APDC mencakup bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, budaya dan iman takwa yang akan dimotori oleh Dompet Dhuafa berkerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) serta kementerian terkit dan pemerintah daerah di Indonesia. .

Parni mencontohkan, di sektor ekonomi, Dompet Dhuafa diharapkan menginisiasi beberapa program, seperti program ketahanan pangan berbasis keluarga maupun komunitas.

“Ketahanan pangan berbasis keluarga seperti budidaya ikan lele dan sayur dalam ember (budikdamber), gerakan Budidaya Ikan Kolam Buatan (Budi Kolbu), kebun pangan keluarga, bantuan modal usaha mikro perorangan dan bantuan pangan yang diprioritaskan untuk lanjut usia, serta disabilitas atau mereka yang tidak bisa diberdayakan lagi,” pesan Parni.

Harapan mantan Direktur RRI ini, manfaat APDC yang baru diluncurkan ini dapat dinikmati mereka yang lemah melalui program pemberdayaan berdasarkan filantopreneur dengan melibatkan seluruh pihak terkait dalam program atau proyek padat karya multiguna.

“Dengan motto Aksi Peduli Dampak Corona, bukti nyata pengamalan Pancasila untuk cinta sesama. Bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila, dan sebagai warga dunia, wajib berkhidmat aktif dengan mengerahkan seluruh potensi dan kompetensinya,” tegasnya di acara launching APDC yang diselenggarakan secara virtual bekerjasama dengan RRI, Kamis (17/9/2020)

Parni menjelaskan, program-program padat karya multiguna yang akan dijalankan APDC akan mengacu pada prinsip 7M, yaitu mendidik, mudah, murah, manfaat, massal, mitra, dan media massa.

Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) juga menggagas dan menerapkan program Keluarga Tangguh bagi keluarga pra sejahtera. Program Keluarga Tangguh Dompet Dhuafa tidak hanya sampai pada pemberian bantuan saja, namun terus memantau dan mendampingi hingga kestabilan ekonomi keluarga bisa tercapai.

Di sektor kesehatan, salah satu aspek yang menjadi fokus utama Dompet Dhuafa adalah penanganan stunting pada anak anak.

Parni Hadi juga mengatakan pandemi Corona berdampak pada pertumbuhan ekonomi, dan tentu berdampak pada gizi maupun anak-anak yang akan lahir.

Stunting

Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf Dompet Dompet Dhuafa, Bambang Suherman menjelaskan, Dompet Dhuafa mulai terlibat program stunting sudah dari tahun 2015 lalu, yang establishing di 8 provinsi. Program ini sempat terhenti karena pandemi Covid-19 datang.

“Saat ini kita akan perluas menjadi 14 provinsi dari 26 titik di kabupaten kota. Dan Alhamdulillah sampai hari ini program stunting terus berjalan,” terang Bambang..

Hal yang perlu digaris bawahi, lanjutnya, Dompet Dhuafa selalu setia menjadi pendamping bagi grassroot (akar rumput). “Dan kami akan selalu menjadi aktifis yang selalu aktif mendampingi masyarakat mengelola permasalahan ketika di lapangan,”ujarnya .

Gagasan cemerlang APDC, lanjut Bambang, merupakan gagasan yang berbasis penguatan keluarga. Untuk ini, ada 2 fokus utama Dompet Dhuafa ; memastikan keluarga bukan cuma diintervensi di aspek kesehatan, tapi juga di aspek ekonomi dan pendidikannya.

“Jadi ada kesadaran memberantas stunting ini bukan hanya di aspek kesehatannya saja, tapi juga ada perilaku sehat, pendidikan, kemudian ada masalah ekonomi, sumber asupan, dan kami berharap bahwa gagasan pengelolaan stunting yang multi intervensi, multi sectoral. Dengan ini kita menciptakan generasi baru yang nanti benar-benar menjadi bonus demografi Indonesia bukan malah menjadi pekerjaan rumah demografi akibat lemahnya generasi yang kita siapkan,”ungkapnya.

Insya Allah program berantas stunting ini akan selau ada ke depan, sekaligus memperkuat intervensi yang berbasis dampak akibat corona. Program berantas stunting di Dompet Dhuafa juga bukan hanya mensasar objek penderita yaitu anak, dan basis keluarga, akan tetapi juga menghasilkan kader sehat sebagai motor penggerak di lapangan.

“Sampai hari ini, kami sudah mempunyai 155 kader terlatih, dan ini kader yang senantiasa mendampingi 24 jam di masyarakat, “ jelasnya.

Ditambah, kita juga mempunyai 88 relawan program spesialis yang sebagian besarnya adalah tenaga kesehatan, dan tenaga gizi yang sangat paham mengelola dinamika masyarakat berbasis keluarga di lapangan.

Terakhir Bambang berharap, ke depan semakin banyak pihak yang ikut terlibat bersama Dompet Dhuafa,, dan ikut pula bersama-sama membantu Pemerintah menurunkan angka stunting dan mencapai target yang ditetapkan yaitu 14 persen di tahun 2024. – Maifil Eka Putra dan Romy Syawal

Advertisement