
DUA negara adidaya yang berada di kutub saling berlawanan, Amerika Serikat dan China terus terlibat saling kecam walau sebatas perang kata-kata terkait sejumlah isu.
Menlu China Wangyi usai pertemuan paralel Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC) di Beijing, Kamis (7/3) mengecam sikap AS yang terus menekan China, sebaliknya memuji kemitraan Rusia dengan negaranya.
Wang menyindir pejabat AS yang disebutnya selalu “berbeda kata dengan perbuatan”, menyatakan suatu hal, tetapi melakukan hal lain sehingga kredibilitasnya sebagai negara besar dipertanyakan.
Ia juga menyindir petinggi AS yang selalu gugup dan gelisah mendengar kata “China” dan menilai, jika AS terobsesi menekan China, akan merugikan dirinya sendiri.
Wang menilai, hubungan China dan AS membaik setelah kunjungan Presiden Xe Jin Ping ke AS dan bertemu dengan Presiden Joe Biden pada November 2023.
“Namun setelah itu, AS tidak menepati janjinya, salah satu contoh, tidak mencabut sanksi pada delapan perusahaan China yang berbisnis dengan Rusia di tengah Perang Rusia dan Ukraina.
Delapan perusahaan itu masuk dalam daftar sanksi terhadap 93 perusahaan dari tujuh negara yang berbisnis denga Rusia di tengah berkecamuknya Perang Rusia – Ukraina
Sebaliknya, Wang memuji hubungan antara China dan Rusia yang dikatakannya sebagai paradigma baru terkait relasi negara-negara besar yang berbeda dengan saat terjadinya Perang Dingin antara Timur dan Barat sampai era 1990-an.
Terkait konflik antara Hamas dan Irael di wilayah Gaza, Palestina, Wang mendesak digeguna membuat peta jalan dan kerangka waktu menuju Solusi Dua Negara. “Perang yang terjadi saat ini merupakan tragedi kemanusiaan dan aib bagi peradaban.
Dukung Palestina
Wang juga mendukung keanggotaa penuh Palestina menjadi anggota PBB dan meminta setiap anggota DK PBB tidak menjadi penghalang serta menambahkan, tekad bangsa Palestina untuk merdeka tidak bisa dikesampingkan.
Hal senada sebelumnya juga disampaikan oleh Dubes China di PBB Zhang Jun yang menyebutkan keanggotaan penuh Palestina di PBB merupakan langkah awal menuju pembentukan Negara Palestina.
Wang pada bagian orasinya menuding AS menimbulkan masalah di Laut China Selatan (LCS) dan Taiwan.
Terkait Taiwan, rakyat China menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya, sehingga negara-negara yang memiliki hubungan dengan Taiwan dianggap mencampuri urusan diplomatik China.
Wang juga menegaskan, negaranya akan terus mengupayakan penyatua Kembali Tawian ecara damai, namun mengingatkan, siapa pun yang mendukung kemerdekaan Tawian akan “membayar harganya”, intya jla; “ Tawian tidak akan diperbolehkan memisahkan diri dari tanah air (China-red).
Di Laut China Selatan, China juga bermasalah dengan sejumlah negara seperti Brunei, Filipina, Malaysia dan Vietnam akibat klaim tumpang tindih di perairan itu.
Filipina yang didukung AS paling erring terlibat insiden dengan China di perairan LCS, sedangkan AS menuding China berlaku agresif dengan menghadang kapal-kapal Filipina yang melintas di perairan yang masih disengketakan.
Isu Taiwan dan LCS jika tidak diantisipasi bisa menjadi titik sengketa yang melibatkan banyak pihak. (AP/Reuters/ns)




