AS dan Iran Belum Sepakat soal Nuklir

Menlu Oman selaku mediator dan tuan rumah diapit Menlu Iran dan Menlu AS dalam pembicaraan program nuklir Iran namun belum ada hasil konkriynya (ilustrasi: Youtibe)
Menlu Oman Sayyid Badr (tengah) sebagai mediator dan tuan rumah pertemuan antara Delegasi Khusus AS Steve Witkoff (kiri) dan Menlu Iran Abbas Araghchi (kanan) di Muskat, Jumat (6/2), Oman (foto youtube)

PERUNDINGAN antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Oman, Jumat (6/2), resmi berakhir, tanpa kesepakatan besar yang diharapkan masrarakat dunia bisa dicapai.

Delegasi kedua negara tidak bertatap muka secara langsung, namun dilakukan secara bergantian melalui perantara diplomat Oman yang bertindak selaku jembatan komunikasi.
Mengutip laporan The Wall Street Journal dari sumber yang memahami jalannya diskusi, Iran dan AS tetap teguh pada posisi awal masig-masing.

 

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan sejauh mana pembicaraan tersebut berdampak pada upaya diplomatik yang lebih luas terkait program nuklir Teheran.

Kendati demikian, rendahnya ekspektasi terhadap hasil pertemuan ini sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah pejabat dan analis regional sebelum perundingan dimulai.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, menilai, pembicaraan sebagai awal positif.

Ia menyatakan, dialog dapat terus berlanjut apabila suasana saling tidak percaya antar-kedua negara dapat segera diatasi.
Araghchi juga mengonfirmasi adanya kesepakatan untuk melanjutkan proses diplomasi ini, termasuk kemungkinan pertemuan kembali di Muscat di masa mendatang.

“Dalam suasana yang sangat positif, argumen kami dipertukarkan dan pandangan pihak lain dibagikan kepada kami,” kata Araghchi kepada televisi pemerintah Iran, dikutip dari AFP.

“Itu adalah awal yang baik,” sambungnya. Langkah selanjutnya akan diputuskan setelah para negosiator mengadakan konsultasi di ibu kota masing-masing negara.
Diplomat senior itu menegaskan bahwa diskusi tersebut hanya berfokus pada isu nuklir. “Kami tidak membahas topik lain dengan AS,” ujarnya.

Sangat serius
Sementara Menlu Oman, Badr Albusaidi, mengatakan, pembicaraan berlangsung sangat serius, membantu memperjelas posisi kedua belah pihak dan mengidentifikasi area untuk kemungkinan kemajuan.

AS telah berupaya untuk membahas program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan tersebut.

Namun, Teheran berulang kali menolak untuk memperluas pembicaraan di luar isu nuklir. Iran dan AS melanjutkan diplomasi nuklir tidak langsung pada pertemuan itu setelah ketegangan meningkat selama beberapa minggu.
Pembicaraan tersebut berlangsung menyusul ancaman dari Washington dan pengerahan kelompok kapal induk ke Timur Tengah setelah tanggapan mematikan Iran terhadap protes anti-pemerintah.

Upaya teranyar
Perundingan di Muscat, Oman merupakan upaya terbaru untuk meredakan ketegangan berkepanjangan terkait program nuklir Teheran.

Negosiasi ini menjadi kontak langsung pertama antara kedua negara sejak konflik bersenjata pada Juni 2025, yang memuncak pada serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran.

Oman sejatinya bukan pilihan awal. Mulanya, pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turkiye, dengan melibatkan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir.

Namun, Iran tiba-tiba mengajukan permintaan agar lokasi negosiasi dipindahkan ke Oman. Menurut tiga pejabat senior Iran, Teheran menolak format multilateral karena khawatir dianggap terpojok di hadapan negara-negara regional.

Mereka ingin negosiasi difokuskan hanya pada hubungan bilateral dengan AS.
“Jika terlalu banyak pihak yang hadir, kami akan tampak seperti dipaksa berunding dengan seluruh kawasan, bukan hanya AS,” ungkap salah satu pejabat kepada New York Times.

Permintaan ini disetujui oleh pihak AS, meski sempat memicu ketegangan. Negosiasi bahkan nyaris batal pada Rabu pagi (4/2) setelah Menlu Iran Abbas Araghchi mengancam mundur jika AS bersikukuh memperluas topik pembicaraan di luar isu nuklir.

Oman sendiri selama ini dikenal sebagai negara penengah yang netral dan tidak berpihak secara terbuka dalam konflik Timur Tengah. Muscat juga memiliki sejarah panjang menjadi lokasi mediasi antara Iran dan negara-negara Barat.

Pada 2013, negosiasi penting soal program nuklir Iran juga pernah digelar di Oman, sebelum penandatanganan kesepakatan nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) 2015. (AFP/Wall Street Journal/ Kompas.com/ ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here