
RETORIKA dan gelora perang terus dikobarkan di tengah kesiapan dua musuh bebuyutan: Amerika Serikat dan Iran yang terus bersitegang hingga saat ini, bahkan keduanya, jika negosiasi gagal, di ambang perang.
Menhan AS Pete Hegseth menegaskan, militer AS siap melakukan apa pun yang diputuskan Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran.
“Pentagon siap melakukan apa saja demi memastikan Iran tidak memiliki kapabilitas (menggunakan-red) senjata nuklir, “ ujar Hegseth Kamis (29/1).
“Iran tidak boleh memiliki kapabilitas nuklir. Kami sudah siap apa pun yang dinstruksikan Presiden Donald Trump ke Kementerian Perang,” ucap Hegseth merujuk nama baru Kemhan AS yang diubah Trump baru-baru ini.
Trump sendiri saat ii dilaporkan tengah meninjau opsi-opsi terhadap Iran, sementara armada kapal induk AS sudah tiba di Timur Tengah menyusul rencana serangan terhadap negeri para mullah itu.
Dilaporkan, Gugus Tempur AL AS dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln yang membawa sekitar 100 pesawat tempur termasuk F-18 Hornet dan Siluman F-35 Lightning II dan sekitar 5.000 marinir, serta sejumlah kapal perusak berpeluncur rudal sudah berada di mulut Teluk Persia.
Masih usaha nego
Namun di tengah ketegangan terus meningkat, Trump malah menuturkan, ia sedang berupaya berbicara dengan rezim Iran untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan pilihannya.
“Ya, rencana saya memang seperti itu, “ kata Trump saat ditanya kemungkinan diskusi dengan Iran, dikutip Reuters, Kamis (29/1).
Iia lalu berujar, “Kita punya banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang berlayar ke Iran saat ini, dan akan sangat bagus jika kita tak perlu menggunakannya.”
Namun, dia tak menjelaskan lebih lanjut soal sifat atau waktu dialog apa pun. Para pejabat AS mengatakan Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi tetapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran.
Ketegangan AS-Iran meningkat tajam selama beberapa pekan terakhir usai demonstrasi besar-besaran di negara Timur Tengah itu.
Menurut informasi dari sejumlah pegamat independen, diperkirakan lebi 5.000 korban, sebagian besar pengunjuk rasa anti pemerintah, tewas.
Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika tindakan keras terhadap para pendemo terus berlangsung, namun , belakangan ancaman Trump berubah.
Preside AS itu mengatakan, AS siap menyerang Iran jika negosiasi program nuklir mereka gagal.
“Semoga Iran segera ‘Duduk di Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata – tanpa senjata nuklir – kesepakatan yang menguntungkan semua pihak,” ujar Trump.
“Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting! dan seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya: “Buat kesepakatan, ” ujarnya.
Kesiapan Iran
Sebaliknya, Iran juga terus melakukan kesiapan perang a.l dengan manuver AL di Teluk Persia dan menambah kekuatan militernya dengan menerima sekitar 1.000 unit drone baru yang disebar ke satuan-satuan AB-nya dan IGarda Revolusi Iran (IRGC).
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kesiapan Teheran menghadapi potensi ancaman Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Panglima AD Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa penguatan armada drone itu merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional.
Menurut dia, militer Iran terus meningkatkan kesiapan tempur guna menghadapi berbagai skenario keamanan.
“Sesuai dengan potensi ancaman, AB terus menjaga dan meningkatkan keunggulan strategisnya untuk melakukan pertempuran cepat serta memberikan respons menghancurkan terhadap setiap agresor,” ujar Hatami
Drone baru tersebut dirancang untuk berbagai fungsi, mulai dari pengintaian, serangan presisi, hingga pengamanan wilayah strategis.
Penggunaan kendaraan udara nirawak telah menjadi elemen penting dalam doktrin militer Iran, terutama dalam menghadapi keterbatasan persenjataan konvensional akibat sanksi internasional. Penguatan militer ini berlangsung di tengah memburuknya hubungan Iran dan AS.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan peringatan keras bahwa opsi militer dapat dipertimbangkan jika Iran menolak kembali ke meja perundingan dan tidak menyepakati kesepakatan terkait pembatasan program nuklirnya.
Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, langkah memperkuat armada drone menunjukkan bahwa Teheran tengah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.
Sampai hari ini, belum ada tanda-tanda keduanya ingin beranjak ke meja perundingan, masing-masing agaknya masih “test the water” untung-ruginya perang. (Reuters/ns)




