
LAPORAN tentang pemunculan kembali virus Nipah di India memicu kekhawatiran meluasnya penyebaran, termasuk potensi masuk ke Indonesia, apalagi fatalitas virus tersebut lebih tinggi, sampai 75 persen..
Menkes Budi Gunadi Sadikin sebelumnya memastikan Indonesia sudah memperkuat skrining di pintu-pintu kedatangan. Pihaknya juga sudah menyiapkan reagen untuk memastikan identifikasi virus.
Meski tidak perlu panik, sebagai kehati-hatian masyarakat Indonesia diminta untuk tak sembarangan mengonsumsi buah karena penyebaran penyait ini banyak melalu buah.
“Buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar, jadi untuk orang-orang Indonesia termasuk wartawan yang ke daerah-daerah (rawan), kalau bisa jangan makan buah yang terbuka,” imbaunya kepada wartawan, Kamis (30/1).
“Misalnya, makan jeruk yang tertutup, lalu kita buka sendiri kupas sendiri, jadi kita bisa lihat,” lanjutnya.
Buah yang terbuka atau ditemukan terjatuh pasca dikonsumsi kelelawar disebut Menkes memiliki risiko tertinggi penularan.
Bila masyarakat tidak yakin dengan keamanan buah yang dikonsumsi, Menkes juga mengimbau untuk menghindari terlebih dulu konsumsi buah tersebut.
“Atau lebih baik lagi nggak usah makan buah deh, makannya nasi sama daging yang dimasak, itu pencegahan nomor satu,” pungkasnya.
Bagi mereka yang mengeluhkan demam, batuk, pilek tak kunjung reda diimbau untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan. Terlebih, saat sudah bepergian ke daerah dengan laporan kasus virus Nipah.
Respons WHO
Pemunculan kembali virus Nipah setelah sebelumnya terdeteksi di India akhir 2025 direspons oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Penyebaran virus Nipah di India dikhawatirkan bisa melanda negara lain, termasuk Indonesia sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan tindakan pencegahan dan upaya mengantisipasinya.
“WHO bekerja sama erat dengan negara-negara berisiko dan mitra untuk memperkuat kesiapan dan respons terhadap wabah infeksi virus Nipah,” bunyi pernyataan WHO di laman resminya, Kamis (29/1).
Mereka mengungkapkan telah memberikan panduan teknis dan mendukung kegiatan pengawasan, manajemen klinis, layanan laboratorium, langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, logistik, pelatihan, dan keterlibatan masyarakat.
Pengembangan pengetahuan
WHO juga menambahkan pengembangan pengetahuan lebih lanjut yang sangat penting untuk berkontribusi pada pengelolaan infeksi virus Nipah.
Hal itu termasuk untuk diagnostik dan terapi, serta pertukaran keahlian antar negara dan mitra, termasuk melalui kegiatan penelitian.
Pada pernyataannya WHO mengungkapkan bahwa virus Nipah merupakan virus zoonotic, yang bisa menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah diyakini sebagai inang alami virus Nipah.
Penularan virus ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda.
WHO mengingatkan, Penularan virus Nipah terjadi jika mengonsumsi buah-buahan atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terkontaminasi oleh kelelawar buah yang terinfeksi..
“Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan ternak seperti babi,” ujarnya, dan menambahkan: bagi sebagian orang, infeksi virus Nipah mungkin tidak menunjukkan gejala.
Namun, sebagian besar orang mengalami demam, dan gejala yang melibatkan otak (seperti sakit kepala atau kebingungan), kesulitan bernapas atau batuk.
Gejala lain yang sering muncul, meliputi menggigil, kelelahan, mengantuk, pusing, muntah, dan diare.
Di Indonesia sendiri, sebagai bentuk antisipasi pengawasan terhadap perjalanan dari luar negeri diperketat, khususnya dari negara yang menetapkan status kasus luar biasa (KLB), seperti Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand.
Sementara itu, Wamenkes Benyamin Paulus Octavianus menegaskan virus Nipah saat ini belum memasuki Indonesia.
Waspada, terus lakukan mitigasi dan antisipasi serta terapkan pola hidup sehat, dan diajurkan amengenakan masker wajah. (detik.com/CNNI/ns)




