AS ingatkan Israel urungkan serang Rafah

Lebih 100.000 warga Palestina meninggalkan Rafah yang diindikasikan bakal diinvasi Israel dalam waktu dekat ini.

MENYUSUL pernyataan Presiden Joe Biden, Menlu Amerika Serikat Anthoni Blinken mengingatkan , serangan darat Israel terhadap Rafah, Palestina hanya akan menciptakan kekacauan dan jatuhnya lebih banyak korban sipil.

Blinken dalam jumpa pers di NBC, Minggu (12/5) menilai, pasukan Israel (IDC) tidak  memiliki peta jalan yang jelas untuk melindungi sekitar 1,4 juta warga Palestina di Rafah jika serangan  darat tetap dilancarkan.

AS yang merupakan konco dan pendukung utama persenjataan Israel di berbagai kesempatan sebelumnya mengisyaratkan perlindungan bagi warga sipil jika pimpinan negara Yahudi itu tetap memilih menyerbu Rafah.

Di tengah kecaman int’l melalui demo-demo anti perang di sejumlah kota di AS dan Uni Eropa (UE) PM Israel Benjamin Netanyahu tetap ngotot akan menyerbu Rafah untuk mengejar kekuatan milisi Hamas yang diyakini berbaur dengan warga sipil dan pengungsi.

Bagi Israel, menurut Netanyahu, kemenangan negerinya hanya bisa dibuktikan dengan melancarkan serbuan ke Rafah, pintu gerbang perbatasan dengan Mesir setelah membombardir Gaza utara sejak 8 Oktober lalu.

Sebaliknya, Blinken menilai, serangan darat Israel ke Rafah hanya akan memicu perlawanan lebih keras dari Hamas dan menimbulkan lebih banyak kekacauan, kevakuman pimpinan dan anarki jika nanti meninggalkan wilayah itu.

Faktanya, kelompok Hamas dilaporkan sudah menyusup lagi ke wilayah Gaza utara yang semula sudah disterilkan melalui bombardemen dan operasi militer intensif yang dilancarkan Israel sejak 8 Okt lalu. Hal sama juga bisa terjadi di Rafah.

Sebelum pernyataan keras yang dilontarkan Blinken, Presiden AS Joe Biden mengancam akan menyetop sebagian aliran persejataan dari negaranya ke Israel jika PM Israel tetap akan menyerbu Rafah.

Sejumlah tank-tank utama Israel dilaporkan sudah bersiap-siap untuk memaski Rafah, sementar bombardemen udara terus berlangsung dan menelan korban terutama warga sipil.

Serangan besar-besaran terhadap Rafah dicemaskan oleh komunitas int’l   terkait nasib pengungsi yang harus terus berpindah-pindah, hidup di tengah kekurangan pasokan makanan, kondisi kesehatan serta tempat berteduh yang memprihatinkan.

Sejauh ini sudah lebih 100-ribu warga Paestina yang meninggalkan Rafah sesuai seruan Israel yang mengindikasikan akan segera memulai penyerbuan ke wilayah itu.

Prospek perdamaian di tanah Palestina makin suram setelah Qatar dan Mesir yang mencoba memediasinya gagal mencapai gencatan senjata yang diterima leh Hamas namun ditolak Israel.

Derita rakyat Palestina tampaknya masih panjang .(ReutersAP/AFP)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here