AS Minta Warganya Di Turki Segera Pulang

Serangan bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Selasa (28/6/2016). Foto:Reuters

AMERIKA SERIKAT – Serangan bom Ataturk memperlihatkan kondisi keamanan di Turki buruk di mata Amerika Serikat (AS), sehingga AS melarang keluarga para prajurit militer maupun warga sipil bertugas di Turki.

Larangan tersbeut disampaikan dua sumber dari militer pertahanan Negara Adidaya, Rabu (29/6/2016). Menurutnya, hal ini menambah seruan Presiden AS Barack Obama, Maret lalu, yang meminta keluarga militer AS meninggalkan pangkalan udara Incirlik, sebagai lokasiyang menjadi benteng pertempuran dengan ISIS.

“Ada kemunduran kondisi keamanan di Turki,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya kepada Reuters.

Saat ini, militer AS punya 2.200 prajurit maupun pegawai sipil di Turki. Sekitar 1.500 di antaranya berbasis di Incirlik. Sementara itu tercatat ada 670 anggota keluarga yang berhubungan dengan personel militer AS yang tinggal di selatan Turki.

Mereka semua nanti bertugas tidak boleh ditemani keluarga, namun ada sekitar 100 anggota keluarga yang masih diperbolehkan tinggal di Turki dan akan dipulangkan perlahan-lahan. Namun, aturan itu tidak berlaku bagi warga AS yang berperan sebagai pemimpin misi atau tim kerja sama keamanan.

Selain melarang keluarga menemani prajurit maupun pegawai sipil di Turki, AS juga mewanti-wanti seluruh warganya yang tinggal di sana atas meningkatnya ancaman dari grup militan. Mereka diminta tidak berkunjung ke bagian-bagian tertentu di Turki yang rawan serangan.

Advertisement