
NEGARA-negara anggota ASEAN harus tetap solid dan menjaga kebersamaan walau tidak harus selalu seriring-sejalan di semua isu dan persoalan, kata Menlu RI Retno LP Marsudi.
Nuansa seperti itu agaknya yang membayangi pertemuan antar Menlu ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting -AMM) digelar di Jakarta, 11 -13 Juli yang juga akan diikuti pertemuan dengan perwakilan negara mitra.
Retno dalam kapasitasnya mewakili keketuaan RI di ASEAN menyebutkan, negosiasi masih terus berlangsung termasuk menyiapkan komunike bersama yang merefleksikan perkembangan kerja dan prioritas kerjasama ke depan, terkait isu kawasan dan global.
Khusus terkait isu krisis politik di Myanmar yang sudah berlangsung sejak kudeta oleh junta terhadap pemerintah sipil 2 Feb. 2021 memang terjadi keterbelahan di kalangan ASEAN dan RI sendiri terus berusaha menjembatani perbedaan yang ada.
RI, Malaysia dan Singapura menolak menghadiri pertemuan informal yang digelar Thailand di Bangkok Juni lalu bersama perwakilan junta Myanmar yang juga dihadiri perwakilan Kamboja dan Laos.
Tuan rumah Thailand berkilah, negerinya yang memiliki perbatasan lebih 1.000 Km dengan Myanmar berkepentingan menjalin dialog dengan rezim junta Myanmar demi keamanan rakyatnya di perbatasan.
Sebaliknya RI dan negara ASEAN lainnya tetap bersikukuh mengacu pada lima butir konsensus ASEAN yang dituangkan pada AMM di Jakarta April 2021 yakni penghentian kekerasan, dialog antara parapihak bertikai, penunjukan utusan khusus ASEAN dengan mandat untuk menemui para pihak di Myanmar serta pemberian ruang bagi bantuan kemanusiaan oleh ASEAN.
Sementara itu, hasil jajak pendapat yang digelar ISEAS Yusuf Ishak Institute menyimpulkan, 82,6 persen responden kecewa pada ASEAN yang dinilai lamban dan tidak efektif sehingga dianggap tidak mampu menghadapi dinamika ekonomi dan politik di kawasan.
Responden juga menilai, 60,7 persen responden pada jajak pendpat 2023 yang menganggap ASEAN pecah atau naik dari 48,2 persen dibandingkan hasil jajak pendapat pada tahun sebelumnya.
ASEAN memang entitas beragam misalnya dari sisi keyakinan penduduknya. Islam dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia, Malaysia dan Brunei, sedangkan mayoritas penduduk Filipina dan Timor Leste beragama Kristen, sementara penduduk Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam memeluk agama Budha.
Dari sisi pendapatan nasional, hanya Singapura yang masuk daftar negara maju sedang sembilan negara lain dalam kategori negara berkembang (developing countries) atau negara berpenghasilan menengah ke bawah.
Lalu dari sistem pemerintahan, ASEAN juga beragam. Yang berstatus monarki atau kesultanan: Brunei, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia, sementara selebihnya: Â Filipina, Myanmar, Singapura, Indonesia, Timor Leste berbentuk republik.
Semua negara mengaku menerapkan demokrasi dalam sistem ketatanegaraannya, walau dalam prakteknya, rezim otoriter yang diwarnai kasus-kasus pelanggaran HAM dan ketidakadilan juga masih terasa.
Namun ASEAN juga bersyukur karena dikagumi pihak lain karena relatif merupkan kawasan bebas konflik, paling tidak sepanjang 25 tahun terakhir kecuali perang saudara di Myanmar yang tak kunjung terselesaikan.
Sebagai perbandingan, Eropa yang dianggap memiliki peradaban tinggi terjerumus dalam konflik berdarah di bekas wilayah Jugoslavia di era 1990-an, dan kini Perang Rusia – Ukraina yang sudah berlangsung lebih dua tahun sejak inva Rusia, 24 Feb. 2022.
Di kawasan lain, Amerika Latin, Tmur Tengah dan benua hitam, konflik terus sambung menyambung tanpa henti akibat proksi negara-negara besar dan juga ambisi para pemimpin lokal.
Sebaliknya, sikap luwes yang dikedepankan ASEAN selama inin berhasil meredam konflik dan menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, sehingga ke depannya, ruang dialog akan terus dibuka.




