Asing Borong Saham Grup Prajogo, BBCA hingga BUMI Ramai Dijual

OJK menilai kebijakan membuka data kepemilikan saham hingga ambang 1% mampu tekan praktik manipulasi harga atau “goreng saham" di pasar modal. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Aktivitas investor asing di pasar saham Indonesia menunjukkan pergerakan yang kontras pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Di satu sisi, dana asing tercatat agresif memborong saham-saham emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu. Sementara di sisi lain mereka justru melepas saham-saham perbankan besar dan emiten tambang.

Berdasarkan data transaksi, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp24,25 miliar. Aksi akumulasi ini terkonsentrasi pada saham-saham grup Prajogo yang justru tengah mengalami tekanan harga.

Saham Emiten Prajogo Jadi Incaran

Data Stockbit menunjukkan, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi incaran utama investor asing dengan nilai beli bersih mencapai Rp190,77 miliar, tertinggi sepanjang perdagangan kemarin.

Selain PTRO, saham-saham lain dalam kelompok usaha Prajogo Pangestu juga tercatat diborong, antara lain:

  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan net buy Rp64,42 miliar
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp36,33 miliar
  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) senilai Rp32,49 miliar
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp25,13 miliar

Menariknya, aksi beli tersebut dilakukan saat mayoritas harga saham grup Prajogo sedang melemah. Saham PTRO anjlok 9,26 persen ke level 8.325, CDIA turun 3,89 persen, CUAN melemah 1,44 persen, dan BRPT terkoreksi 0,39 persen.

Di tengah tekanan tersebut, hanya saham BREN yang masih mampu mencatatkan kenaikan 0,81 persen ke posisi 9.375.

Kondisi ini mengindikasikan strategi akumulasi saat harga turun (buy on weakness) yang kerap dilakukan investor asing untuk saham-saham dengan prospek jangka panjang.

Asing Ramai Jual Saham Bank dan Tambang

Berbanding terbalik, investor asing justru gencar melakukan jual bersih (net sell) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nilai jual bersih terbesar, yakni Rp785,4 miliar.

Aksi lepas saham juga terjadi pada:

  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell Rp448,86 miliar
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp357,93 miliar

Dari sisi pergerakan harga, saham BBCA terpantau stagnan di level Rp7.650, sementara BMRI melemah 1,6 persen ke Rp4.910. Adapun saham BUMI mengalami penurunan tajam hingga 7,78 persen ke posisi Rp332 per saham.

IHSG Tetap Menguat Tipis

Di tengah derasnya arus jual-beli asing tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,27 persen ke level 8.975. Namun, sepanjang perdagangan intraday, IHSG sempat bergerak fluktuatif dan bahkan menyentuh level terendah di 8.927 atau turun 0,27 persen pada pukul 14.14 WIB.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat:

  • Nilai transaksi mencapai Rp36,97 triliun
  • Volume perdagangan sebesar 57,50 miliar saham
  • Frekuensi transaksi sebanyak 3,86 juta kali

Dari total saham yang diperdagangkan, 267 saham menguat, 428 saham melemah, dan 110 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp16.341 triliun.

Pergerakan kontras antara aksi beli dan jual investor asing ini menjadi sinyal bahwa pasar tengah berada dalam fase seleksi ketat. Di mana investor global mulai memilah saham berdasarkan prospek fundamental dan valuasi jangka panjang.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here