
INFEKSI bakteri pemakan daging atau syndrome shock toxic streptococcus  (STSS) dilaporkan telah menyebar dengan cepat di Jepang, sampai Juni ini dilaporkan sudah mencapai 1.000 kasus dan menyebabkan 77 kematian.
Kementerian Kesehatan Jepang seperti dilaporkan Kyodo baru-baru menyebutkan, puluhan korban meninggal dan ratusan terpapar bakteri pemakan daging  Streptococcus pyogenes kelompok A tersebut.
Namun sejauh ini, menurut Kabiro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi (27/6), belum ada laporan adanya kasus paparan penyakit yang menjadi perhatian globalkarena bisa memicu kematian dalam 48 jam itu.
STSS, kata Nadia, disebut bakteri pemangsa daging lantaran dapat menghancurkan kulit, lemak, dan jaringan di sekitar otot dalam waktu singkat, sejak seseorang pertama kali terinfeksi.
Kasus-kasus  STSS yang dilaporkan di Jepang biasanya muncul dengan gejala faringitis atau peradangan pada tenggorokan (faring) dan . Infeksi STSS bisa berakibat fatal karena pasien berisiko mengalami sepsis dan gagal multiorgan.
Penyebaran  STSS terjadi melalui pernapasan dan droplet (percikan ludah atau lendir) dari seseorang yang sudah terinfeksi bakteri lebih dulu, namun sejauh ini di Indonesia belum ada laporan tentang adanya penyebaran penyakit tersebut.
Meski demikian, pihaknya akan terus memantau situasi melalui surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI) – Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dan pemeriksaan genomik.
Namun, penyebabnya secara pasti masih belum diketahui karena gejala STSS biasanya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat.
Jepang telah melaporkan kasus infeksi streptokokus dalam sistem notifikasi surveilans sejak 1999. Pada 2023, terdapat 941 kasus, dan angka ini meningkat menjadi 977 kasus pada Juni 2024, sedangkan agka kematian mencapai 77 orang.
Sejauh ini Badan Kesehatan Dunia WHO) juga belum menerbitkan rekomendasi pembatasan perjalanan ke negara-negara terdampak terkait peningkatan kasus iGAS atau invasive Group A Streptococcal disease, termasuk STSS.
Pengobatan STSS dilakukan dengan pemberian dosis antibiotik dan sejauh ini belum ada vaksin khusus untuk mencegah infeksi bakteri “pemakan daging” tersebut.
“Yang paling penting, kebiasaan baik yang sudah terbentuk saat pandemi COVID-19 seperti cuci tangan pakai sabun dan memakai masker dilanjutkan untuk meminimalisir perpindahan droplet lewat pernapasan,” kata dr Nadia, dikutip dari laman Kemenkes RI.
Waspada dan waspada!, tetap kenakan masker dan sering cuci tangan dengan sabun atau disinfektan.




