
SEMAKIN seringnya intensitas gempa vulkanik dan tektonik yang merupakan tanda-tanda akan terjadi erupsi Gunung Agung di Kab. Karangasem, Bali , membuat persiapan untuk mencegah jatuhnya korban berpacu dengan waktu.
Asap tipis disertai solfatara yang terkena air hujan akibat guyuran hujan semalaman di kawah Gunung Agung mulai terasa, Sabtu, namun sejauh ini belum terpantau turunnya hujan abu penanda erupsi.
Staf Ahli dan Penanggungjawab Data Gunung Wilayah Bali dan NTB PVMBG Oktory Prambada mengingatkan, saat ini sudah memasuki fase krisis kegempaan, ditandai terjadinya retakan bebatuan di dalam gunung api.
Setelah itu, menurut Oktory, biasanya magma hasil dorongan kerak bumi bisa menyembur atau terjadi erupsi, walau erupsi bisa juga tidak terjadi jika daya dorongnya tidak cukup besar.
Letusan Gunung Agung pada 1963 menyebabkan 1.549 korban tewas, 290 luka-luka, sekitar 1.700 bangunan rumah hancur, 225.000 warga kehilangan mata pencaharian dan 100.00 orang mengungsi ke wilayah di sekitarnya.
Dibanding erupsi Gunung Tambora pada 1815 dan Gunung Krakatau pada 1883, letusan Gunung Agung pada 1963 memang lebih kecil, namun di abad ke-20 letusan Gunung Agung hanya bisa disaingi letusan Gunung Pinatubo di Filipina dengan  850 korban jiwa (1991).
Stephen Self dan Michael R Rampino dalam bulletin Vulcanologi 2012 yang dikutip Kompas (24/9) menyebutkan, rangkaian letusan Gunung Agung dari Februari 1963 sampai hingga Januari 1964 paling menghancurkan, karena kolom letusannya sampai setinggi 20 Km, dengan muntahan material sebanyak 0,4 Km3.
Material vulkanik berupa aerosol sulfat berterbangan dan melapisi atmosfir bumi hingga sejauh 14.400 Km sehingga mengakibatkan penurunan suhu bumi 0,4 derajat Celsius karena sinar matahari tidak bisa menembus lapisan tersebut.
Sejumlah vulkanolog di Indonesia cemas dengan aktivitas Gunung Agung yang sudah beristirahat sejak 54 tahun lalu, namun aktif lagi sejak pertengahan September. Gunung Agung tercatat meletus pada 1808, 1821 dan 1843 dan 1963.
Risiko bencana, tinggi
Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono (Mbah Rono) mengingatkan, risiko bencana letusan Gunung Agung sangat tinggi, tidak hanya terjadi akibat daya letusannya, tetapi juga akibat banyaknya warga tinggal di zona bahaya.
Bahkan menurut Mbah Rono, tingginya angka korban pada letusan 1963 karena sebagian warga, dengan alasan menjaga harta, ternak dan hasil pertanian mereka, menolak diungsikan ke lokasi lebih aman.
Status Gunung Agung sejak Jumat (22/11) pukul 20.30 dinaikkan menjadi Awas atau level tertinggi status gunung api setelah pada hari itu tercatat 791 kali gempa dibandingkan sehari sebelumnya dengan 759 kali gempa.
Dengan peningkatan status bencana dari Siaga ke Awas, kawasan rawan bencana diperluas dari radius enam kilometer menjadi sembilan kilometer. Warga yang berada di radius 12 km arah tenggara, selatan, barat daya, utara dan timur laut harus dievakuasi.
Saat ini, menurut Kepala PVMBG Kasbani, dari intensitas gempa yang meningkat, aktivitas Gunung Agung sudah sangat tinggi, sedangkan pergerakan magma yang naik ke permukaan juga sudah terdeteksi.
Arus pengungsi yang tercatat di Posko Tanah Ampo sampai Sabtu malam tercatat sekitar 35.000 orang yang tersebar di 130 lokasi dari 62.000 orang total warga di kawasan zona bahaya pada radius enam sampai 7,5 km dari puncak Gunung Agung.
Kawasan Rawan Bencana 1 di bagian utara, tenggara, selatan dan barat daya dari puncak Gunung Agung a.l. meliputi desa Sukadana, Kubu, Baturinggit, Tulamben, Dukuh,Datah, Budakeling, Sebudi, Nawakerti, Sebudi, Amerta Bhuana dan Duda Utara. Tanah Ampo, di Karangasem dijadikan pusat penanggulangan bencana Gunung Agung.
Sejauh ini seluruh institusi terkait dikoordinasikan BNPB terus melakukan persiapan guna mengantisipasi dampak erupsi yang diprediksi sampai wilayah Jawa Timur.
Kepala BNPB Willem Rampangilei mengimbau warga yang masih tinggal di zona bahaya segera mengungsi, sementara aparat juga terus menyisir kawasan tersebut guna memastikan tidak ada lagi warga yang bertahan.
Sambil berdoa agar erupsi tidak terjadi, tindakan antisipasi dan persiapan terus-menerus dari segala aspek dampak bencana diharapkan mampu menekan bahkan menghindari jatuhnya korban jiwa mau pun harta benda.




