Bahaya Tersembunyi Sepeda Listrik: Risiko Cedera Otak dan Saraf Meningkat Drastis

Ada lonjakan signifikan kasus cedera otak dan tulang belakang terkait dengan sepeda listrik (e-bike) dan skuter listrik di kawasan perkotaan. (Foto: Pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Tren penggunaan sepeda listrik (e-bike) dan skuter listrik di kawasan perkotaan membawa konsekuensi medis yang mengkhawatirkan. Sebuah studi terbaru mengungkapkan adanya lonjakan signifikan kasus cedera otak dan tulang belakang yang berkaitan dengan perangkat mikromobilitas ini. Baik pada pengendara maupun pejalan kaki yang menjadi korban tabrakan.

Penelitian yang dipimpin oleh tim ahli dari NYU Langone Health menunjukkan jenis cedera ini kini menyumbang hampir 7 persen dari total pasien trauma yang masuk ke salah satu rumah sakit besar di New York. Data yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Neurosurgery pada 15 April ini, menganalisis lebih dari 900 pasien selama periode lima tahun.

Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan

Hasil analisis para peneliti dari NYU mengungkap fakta mencengangkan. Keterlibatan perangkat listrik dalam kasus trauma di ruang gawat darurat (IGD) melompat drastis dari kurang dari 10 persen pada tahun 2018 menjadi lebih dari 50 persen pada tahun 2023.

Dari total pasien yang ditangani, sepertiganya menderita cedera otak traumatik, dan sekitar 30 persen di antaranya membutuhkan perawatan intensif (ICU). Ironisnya, kurang dari sepertiga pengendara yang ditemukan menggunakan helm saat kecelakaan terjadi.

“Studi kami membuktikan kecelakaan mikromobilitas menghasilkan trauma otak dan tulang belakang serius yang membutuhkan penanganan bedah saraf pada skala yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujar dr. Hannah Weiss, penulis utama sekaligus residen di Departemen Bedah Saraf NYU Grossman School of Medicine.

Pejalan Kaki: Korban yang Paling Rentan

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam studi ini adalah nasib pejalan kaki. Meski tidak mengendarai alat tersebut, pejalan kaki yang ditabrak oleh kendaraan listrik menderita cedera otak dengan tingkat keparahan hampir dua kali lipat dibandingkan si pengendara itu sendiri.

Bentrokan dengan mobil atau truk menjadi penyebab kecelakaan paling umum, mencakup setengah dari seluruh kasus. Selain itu, waktu puncak kecelakaan terpantau terjadi antara pukul 18.00 hingga 20.00 malam. Para peneliti menduga hal ini berkaitan erat dengan tingginya aktivitas layanan pengantaran makanan menggunakan sepeda listrik pada jam makan malam.

Alkohol dan Kelalaian Helm

Faktor gaya hidup juga memperburuk statistik medis ini. Sekitar satu dari lima pasien dinyatakan positif mengonsumsi alkohol. Penggunaan alkohol ini berkorelasi langsung dengan tingkat cedera otak yang lebih parah serta rendahnya kesadaran untuk mengenakan pelindung kepala.

Dr. Paul P. Huang, profesor di Departemen Bedah Saraf NYU Grossman School of Medicine sekaligus kepala bedah saraf di NYC Health + Hospitals/Bellevue, menegaskan infrastruktur kota harus segera berbenah untuk mengimbangi pertumbuhan teknologi ini.

“Data ini menunjuk pada solusi nyata: penggunaan helm, desain jalur sepeda yang lebih aman, dan penegakan hukum. Studi di masa depan harus mengukur apakah jalur sepeda yang terproteksi dan program wajib helm benar-benar mampu mengurangi jumlah operasi otak dan tulang belakang yang kami lakukan,” pungkas dr. Huang.

Tim peneliti dari NYU menekankan pencegahan adalah kunci utama. Tanpa regulasi yang ketat dan fasilitas jalan yang memadai, perangkat yang awalnya diciptakan untuk memudahkan mobilitas ini justru berisiko menjadi ancaman baru bagi keselamatan publik di jalan raya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here