
Jakarta, KBKNews.id – Hubungan diplomatik antara China dan Jepang kembali berada di titik nadir. Pemerintah China secara resmi melayangkan protes keras setelah kompleks Kedutaan Besarnya di Tokyo didera serangkaian aksi teror dalam sebulan terakhir. Rentetan insiden mulai dari penyusupan bersenjata hingga ancaman bom tersebut disebut Beijing sebagai “pelanggaran berat” terhadap kedaulatan negara.
Kuasa Usaha Ad-interim Kedutaan China di Tokyo, Shi Yong, mengungkapkan kronologi mencekam yang menimpa misi diplomatik mereka. Menurutnya, serangan psikologis dimulai pada 5 Maret lalu saat kedutaan menerima surat ancaman dari sebuah organisasi yang mengklaim beranggotakan mantan personel kepolisian dan pasukan bela diri Jepang.
Penyusupan Bersenjata oleh Personel Militer
Puncak ketegangan terjadi pada 24 Maret 2024, ketika seorang perwira aktif Angkatan Darat Bela Diri Jepang (JGSDF) berpangkat Letnan Dua, Kodai Murata, nekat memanjat pagar Kedutaan China. Murata menyusup ke dalam kompleks kedutaan sambil membawa senjata tajam.
Berdasarkan laporan kepolisian setempat, Murata mengaku berniat mengonfrontasi Duta Besar China, Wu Jianghao. Ia menuntut agar Beijing menghentikan pernyataan-pernyataan keras terhadap Jepang. Pelaku bahkan dilaporkan berencana mengakhiri hidupnya jika tuntutannya tidak dipenuhi.
“Insiden-insiden ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan martabat China, serta ancaman nyata bagi keselamatan personel diplomatik kami,” tegas Shi Yong dalam pernyataannya, Kamis (16/4/2026).
Ancaman Bom dan Kelambanan Otoritas Lokal
Teror tidak berhenti di situ. Pada 31 Maret, seorang individu lain yang mengaku sebagai perwira cadangan militer Jepang menyebarkan ancaman bom melalui internet. Ia mengklaim telah menanam bom kendali jarak jauh di dalam area kedutaan. Meski pencarian selama dua jam oleh tim gegana tidak menemukan perangkat ledak, insiden ini menambah daftar panjang gangguan keamanan yang dihadapi pihak China.
Shi Yong menyayangkan sikap kepolisian Jepang yang dinilai kurang serius dalam menangani laporan awal mereka. Ia menyebut langkah-langkah pencegahan yang diambil otoritas lokal tidak efektif, sehingga memberikan ruang bagi aksi-aksi provokatif selanjutnya.
Tudingan Bangkitnya Militerisme Baru
Beijing melihat rentetan teror ini bukan sekadar tindakan kriminal individu, melainkan cerminan dari kondisi politik dalam negeri Jepang yang semakin mengkhawatirkan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut insiden ini adalah buah dari tumbuhnya ideologi sayap kanan ekstrem dan “militerisme baru” di Jepang.
Pihak China menilai kebijakan pemerintah Jepang saat ini secara tidak langsung menyuburkan sentimen anti-China di masyarakat. Hal ini dianggap berbahaya bagi stabilitas kawasan dan keamanan diplomat asing yang seharusnya dilindungi sepenuhnya oleh negara penerima.
Respon Pemerintah Jepang
Di sisi lain, Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, secara resmi menyatakan insiden penyusupan tersebut “sangat disayangkan.” Pemerintah Jepang berjanji akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan seluruh kantor perwakilan diplomatik di wilayahnya dan mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Meski demikian, pernyataan Tokyo tersebut tampaknya belum cukup meredam kemarahan Beijing. China menuntut investigasi menyeluruh dan jaminan perlindungan fisik yang lebih ketat sesuai dengan Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik. Konflik ini kini menjadi ujian berat bagi kedua negara untuk meredam sentimen nasionalisme di tengah memanasnya persaingan pengaruh di Asia Timur.




