spot_img

Bangun Rumah Akhirat dengan Wakaf

JAKARTA – Untuk membeli rumah di dunia, banyak orang merencanakannya dengan sangat serius. Mulai dari menabung untuk pembayaran uang muka, menghitung pelunasan cicilan KPR yang bisa memakan waktu hingga dua puluh tahun, hingga biaya untuk membeli furnitur dan perbaikan rumah.

Lalu, bagaimana dengan rumah di akhirat? Sudahkah kita merencanakannya? Apakah amalan yang kita lakukan sudah cukup untuk ‘melunasi’ uang muka dan ‘pembayaran cicilannya’?

Bagi siapa pun yang berharap memiliki rumah di akhirat kelak, mari kita mulai merencanakannya dari sekarang. Bagaimana caranya? Tentu dengan mulai merencanakan wakaf, salah satunya dengan wakaf masjid.

“Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, niscaya kelak di surga Allah akan membangunkan rumah untuknya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, tentu saja tidak hanya wakaf masjid saja yang bisa kita lakukan, karena setiap bentuk wakaf merupakan amal jariyah yang pahalanya terus-menerus akan kita peroleh selama masih dimanfaatkan.

“Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, salah satunya yaitu sedekah jariyah…” (HR Muslim)

Dilansir dari tabungwakaf.com, berikut ini beberapa tahapan yang bisa kita persiapkan untuk membangun rumah akhirat di surga:

1. Menentukan Waktu

Sama seperti pembelian rumah yang memerlukan penentuan waktu pelunasan, baik dalam tempo 10, 15, atau 20 tahun, demikian juga dengan wakaf. Kita perlu menetapkan target waktu, kapan ingin melakukan wakaf?

Selain itu, spesifikasi lainnya seperti bentuk wakaf yang diinginkan dan siapa yang akan dipercaya untuk mengelolanya juga perlu dipertimbangkan.

Jangan hanya menjadikan wakaf sebagai angan-angan kosong! Tanpa target waktu yang jelas, bisa dipastikan setiap kali ada rezeki lebih, kita tetap tidak akan ingat mengalokasikannya untuk dana wakaf.

Ingat selalu bahwa di akhirat kelak kita juga memerlukan rumah. Bersedekah, terutama dengan berwakaf, adalah salah satu cara untuk memiliki rumah di akhirat. Jadi, kapan kita berencana untuk memilikinya?

2. Menghitung Jumlah Cicilan

Jika untuk memiliki rumah di dunia saja kita perlu mengetahui perhitungan matang, seperti berapa yang harus disisihkan setiap bulan untuk mencicil, apalagi untuk rumah di akhirat kelak.

Pertanyaannya, sudahkah kita memiliki anggaran untuk bersedekah, lebih spesifik lagi, anggaran untuk mencicil dana wakaf setiap bulannya?

“Orang yang paling bijak adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…” (HR Tirmizi)

3. Bersedekah dengan Akhlak Mulia

Jangan pernah berkecil hati jika tak memiliki secuil harta pun untuk disedekahkan apalagi barang berharga untuk diwakafkan. Karena, kita tetap dapat memiliki jaminan rumah di akhirat kelak selama menjaga kebagusan akhlak, sebagaimana hadis Rasulullah:

“Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR Abu Daud, no 4800)

4. Jangan Pernah Merasa Cukup

Yang terpenting dalam merencanakan rumah di surga sesuai janji-Nya adalah jangan pernah merasa cukup!

Sebagaimana manusia pada umumnya yang selalu merasa tak cukup dengan harta duniawi, demikian pula seharusnya kita tak boleh merasa cukup dalam bersedekah dan dalam mewakafkan harta berharga kita untuk kepentingan akhirat kelak.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima tobat bagi siapa saja yang bertobat.” (HR Bukhari no. 6438)

Semoga Allah memampukan kita untuk memiliki rumah tempat tinggal di surga kelak sesuai janji Nya.

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles