
TAMBAH bingung lagi, baru beberapa menit sowan Sanghyang Wenang, tahu-tahu adik sepupunya, Wisanggeni, muncul dari toilet. Rupanya dia juga dipanggil oleh Sanghyang Wenang pula. Wah, ini pasti serius dan maha penting sekali. Jika tidak masak wayang sekelas Antaseno dan Wisanggeni dipanggil khusus ke Ngondar-andir Bawana. Apa mau dijadikan komisaris utama perusahaan di kahyangan?
Antaseno dan Wisanggeni ini Gen Z di dunia perwayangan, usianya baru 20 tahunan. Sebagaimana lazimnya anak muda sekarang, mereka pinter-pinter tetapi tatakrama kurang. Pada kalangan tua kurang menghormati dengan alasan, tua bukanlah prestasi, tapi sekedar keniscayaan. Oleh karenanya pada siapa saja Antaseno-Wisanggeni tak mau berbahasa halus. Bahkan untuk menyembah saja pada para wayang sesepuh, keduanya paling allergi.
“Lho, dimas Wisanggeni kok sudah duluan ada di sini?” bisik Antaseno.
“Baru 10 menit lalu. Ternyata kangmas Antaseno dipanggil juga toh. Mungkin kita mau dipromosikan jadi relawan Perang Baratayuda.” Jawab Wisanggeni, berbisik pula.
Dua putra Pendawa Lima ini memang dikenal pemberani. Jika merasa benar, siapa saja akan dilawannya, bahkan berani kurang ajar pada tokoh-tokoh senior. Namun demikian kekurang-ajaran Antaseno masih terukur. Dia tak pernah mengecam pemerintahan Ngamarta, tak pernah mengancam Prabu Puntadewa untuk diturunkannya sampai berdarah-darah. Dia mahasiswa, bukan mahasewa macam Ketua BEM UI Melki Sedek yang diperalat jadi corongnya kaum oposisi. Karenanya Antaseno-Wisanggeni konsisten membenci Pendita Durna dan Patih Sengkuni, bukan malah memuja-mujanya.
Menjelang Perang Baratayuda ini banyak relawan yang membela Pendawa atau Ngastina. Ada pula yang tadinya pro Pandawa mendadak berubah jadi pro Ngastina. Misalnya tumenggung Towel Wungkalbener, berbalik dukung Ngastina karena katanya Prabu Puntadewa pasif dan miskin gagasan. Padahal Duryudana Cs ini bukan kaya gagasan, tapi suka gas-gasan alias rakus.
“Maaf pukulun Sanghyang Wenang, dalam Baratayuda ini Pendawa menang apa kalah lawan Ngastina?” ujar Wisanggeni memberanikan diri bertanya.
“Ya tinggal maunya kalian berdua bagaimana, pengin menang atau kalah?” jawab Sanghyang Wenang.
“Ya pengin menang dong ah!” jawab Antaseno-Wisanggeni saur manuk (berebut).
“Bisa saja, tapi ada syaratnya….” kata Sanghyang Wenang sambil menatap muka dua ksatria muda ini dalam-dalam.
Sanghyang wenang lalu membeberkan persyaratan itu. Bukan lunas PBB 2023 atau tak punya pinjaman di bank pemerintah, tapi Antaseno dan Wisanggeni tak boleh menangi (menyaksikan) terjadinya Perang Baratayuda 2024. Jika ngotot pengin menyaksikan perang tersebut, justru kubu Pandawa akan kalah. Soalnya, sesuai dengan karakter ndugal kuwarisan (kurang ajar)-nya Antaseno-Wisanggeni, skenario Baratayuda bisa diacak-acak nggak keruan. Kitab Jitapsara jadi kertas tanpa makna. Kasihan pihak pabrik rokok yang jadi sponsornya.
Antaseno dan Wisanggeni lalu berunding secara bisik-bisik. Jika memilih mati atau dimatikan sekarang, dijamin masuk surga tanpa hisab. Di sana akan dilayani 70 bidadari sampai gempor, tanpa perlu doping pil Viagra. Sebaliknya jika menyaksikan terjadinya Baratayuda, keduanya akan melihat dengan nyata kekalahan telak Pendawa atas Kurawa. Bukan saja Ngastina takkan kembali, justru negeri Ngamarta berikut segala asetnya akan diambil alih oleh Prabu Duryudana Cs.
“Ya sudah pukulun Sangyang Wenang, kami sepakat akan mati bersama tanpa menyaksikan Perang Baratayuda. Lalu caranya bagaimana, apakah bunuh diri minum miras oplosan?” jawab Antaseno-Wisanggeni kompak.
“Ya nggaklah, itu kan cara sadis dan dilarang agama. Kalian akan mati secara terhormat, tanpa bikin beban ahli waris yang ditinggalkan. Kalian cukup merem saja barang 10 menit, nanti semuanya akan selesai.” Jawab Sanghyang Wenang sambil mempersiapkan peralatannya.
Peralatan itu ternyata berupa kain kafan dua lembar, mori cap sen. Antaseno dan Wisanggeni diminta mengenakan sendiri-sendiri, persis mau sumpah pocong. Lalu keduanya diperintahkan tidur rebahan mujur ngalor dengan mata terpejam. Nanti jika sudah ada aba-aba sampai hitungan ke-10 harus tahan napas. Di situlah Yamadipati akan hadir.
Benar saja, Sanghyang Wenang lalu menghitung satu, dua, tiga, dan seterusnya. Tepat hitungan ke-10 Antaseno dan Wisanggeni menahan napas. Tiba-tiba tubuh mereka jadi mengecil-mengecil, sampai tinggal ukuran mrica binubut (baca: kecil sekali). Lalu Sanghyang Wenang meniupnya wush…….mendadak Antaseno – Wisanggeni hilang tanpa jejak. Yamadipati datang sudah terlambat, sehingga tak sempat mencabut nyawa keduanya.
“Kok mereka sudah mati duluan pukulun, tanpa jasad lagi.” Bethara Yamadipati protes pada Sangyang Wenang.
“Habis kamu datang telat sih.”
“Maaf pukulun, lewat Solo macet total ada demo power suply Amien Rais – Mudrick Sangidu.” Jawab Bethara Yamadipati penuh penyesalan. (Ki Guna Watoncarita)


