JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyoroti kondisi armada Garuda Indonesia dan Citilink yang dinilai banyak tidak bisa beroperasi akibat tertunda menjalani perawatan wajib.
Managing Director Business-3 Danantara Asset Management, Febriany Eddy, mengatakan sejumlah pesawat kedua maskapai pelat merah tersebut kini berstatus grounded karena belum menjalani maintenance yang semestinya. Kondisi ini membuat pesawat tidak menghasilkan pendapatan, sementara biaya tetap terus berjalan. “Semakin lama penundaan, semakin besar pula lubang yang harus ditutup,” ujarnya.
Sebagai langkah pemulihan, Danantara memprioritaskan perawatan armada Garuda Indonesia dan Citilink. Tujuannya agar seluruh pesawat kembali memenuhi persyaratan keselamatan dan dapat segera mengudara. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari proses transformasi Garuda Indonesia yang mencakup empat pilar: peningkatan layanan, pengembangan model bisnis, modernisasi teknologi, dan penguatan operasional berbasis keselamatan.
Febriany menegaskan Danantara berkomitmen mengawal pemulihan Garuda bersama manajemen hingga tuntas. Saat ini Danantara sedang menangani sejumlah BUMN strategis, termasuk kedua maskapai negara tersebut.
Total tambahan modal sebesar Rp 23,67 triliun telah digelontorkan Danantara untuk Garuda Indonesia dan Citilink. Dari jumlah itu, Rp 8,7 triliun dialokasikan untuk Garuda, termasuk biaya perawatan armada. Sementara Rp 14,9 triliun disalurkan untuk Citilink—Rp 3,7 triliun digunakan melunasi utang bahan bakar kepada Pertamina untuk periode 2019–2021 dan Rp 11,2 triliun sebagai modal kerja.





