Barat Tekan Myanmar, Junta Bergeming

Bocah usia tujuh tahun di kota Mandalay, Myanmar, Myo Chit jadi korban penembakan aparat keamanan (23/3). Sudah 261 orang tewas dalam aksi-aksi kekerasan oleh rezim junta militer melawan massa prodemokrasi.

PEREKONOMIAN dan aktivitas publik lumpuh, tiada hari tanpa unjuk rasa oleh masa prodemokrasi dan aksi kekerasan oleh aparat militer dan polisi Myanmar pasca kudeta oleh junta militer terhadap pemerintah sipil sejak 1 Fabruari.

Sejauh ini, korban tewas dari kelompok pengunjukrasa diperkirakan mencapai 261 orang, belum termasuk yang luka-luka dan 2.665 orang dijebloskan ke dalam tahanan termasuk pemimpin partai Liga Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi dan sejumlah politisi yang dikenai tahanan rumah.

Pemerintah Amerika Serikat juga telah mengenakan sanksi berupa pembekuan aset Myanmar di negara itu sekitar satu milyar dollar AS dan larangan masuk bagi petinggi junta militer Myanmar, Inggeris juga melakukan tindakan sama.

AS juga melarang aktivitas perusahaan raksasa Myanmar Economic Holdings Ltd (MEHL) bergerak di berbagai sektor usaha  yang dikelola penguasa militer Myanmar di negaranya.

Sementara Uni Eropa selain sudah mengenakan embargo pegiriman peralatan militer, dilaporkan juga mengenakan larangan pemberian visa bagi sebelas tokoh kunci militer Myanmar termasuk panglima tertingginya, Jenderal  Min Aung Hlaing.

Menlu Inggris Dominic Raab mengatakan bahwa penjatuhan sanksi oleh negaranya diharapkan akan memutus dukungan ekonomi terhadap para jenderal yang terlibat kudeta.

“Sanksi menyasar kepentingan keuangan militer sehingga sumber dana mereka yang digunakan untuk aksi penindasan terhadap warga sipil terkuras,” kata Raab.

AS juga menyatakan akan menjatuhkan sanksi terhadap Myanmar Economic Corporation Limited (MEC) yang mendominasi sejumlah keiatan usaha penting seperti transaksi perdagangan, hasil bumi, alkohol, rokok dan barang konsumsi.

Korban anak kecil

Yang membuat miris, tewasnya anak perempuan berusia tujuh tahun Khin Myo Chit saat polisi menggerebek rumahnya di kota Mandalai (23/3) untuk mencari pengunjukrasa beberapa hari lalu.

Myo Chit, seperti penuturan ayahnya, U Maung Ko, berlari ke arahnya karena takut menyaksikan polisi yang melepaskan tembakan dan memukuli kakaknya.

Tak kenal ampun, polisi mengarahkan senapannya ke tubuh anak itu yang roboh bersimbah darah beberapa langkah di depan U Maung Ko. Jenasah Myo Chit yang dibungkus kain kafan berwarna putih lalu diusung sejumlah orang di sekitar kejadian ke rumah keluarganya.

Sementara ASEAN agaknya sedang menyatukan langkah untuk ikut mencarikan solusi bagi krisis politik Myanmar, tampak dari lawatan  Menlu Singapura Vivian Balakrishnan ke Malaysia dan Brunei Darussalam, selanjutnya ke Indonesia.

Malaysia dan RI sendiri sedang mengupayakan pertemuan tingkat tinggi ASEAN walau rencana kunjungan Menlu RI Retno Marsudi ke Myanmar tertunda karena dicurigai kelompok podemokrasi yang menganggap pemerintah RI berpihak pada rezim junta.

Menghadapi kekuatan rakyat, sampai kapan rezim junta bisa bertahan,walau mereka masih merasa jumawa dengan menyebutkan, Myanmar sebelumnya selalu mampu menghadapi tekanan international.

 

 

 

 

 

Advertisement