
GARA-GARA bersikukuh membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 “triumph” buatan Rusia, Turki dikeluarkan Amerika Serikat dari proyek kerjasama pembuatan pesawat tempur siluman F-35 “Ligthning II”.
Semula, Presiden AS Donald Trump sendiri turun tangan membujuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan agar urung membeli sistem rudal S-400 yang mampu mendetesi 36 obyek di udara secara simultan itu.
Selain Turki, AS bekerjasama dengan 12 negara lain mengembangkan pesawat tempur F-35 yakni dengan Australia, Belanda, Belgia, Denmark, Inggeris, Israel, Italia, Jepang, Finlandia, Kanada dan Norwegia,
Di tengah kontroversi jadi tidaknya transaksi Turki dan Rusia itu, akhirnya gelombang pertama sistem rudal pertahanan udara S-400 dengan nilai kontrak dua milyar dollar per set (sekitar Rp29 triliun), telah tiba di Lanud Murted, Turki, Kamis (12/7).
Akibatnya? Selain kehilangan peluang untuk mendapatkan kontrak milyaran dollar AS sebagai vendor sekitar 900 komponen pesawat tempur generasi ke-5 itu, Turki juga urung memperoleh 100 unit F-35 pesanannnya bernilai 1,4 milyar dollar AS (sekitar Rp19,5 triliun).
Tidak ada definisi yang pas terkait sebutan pesawat generasi ke-5, namun paling tidak berupa penggabungan teknologi baru seperti thrust vectoring dan material berbahan komposit.
Selain itu pesawat generasi ke-lima juga berkemampuan supercruise (kemampuan jelajah pada kecepatan supersonik tanpa menggunakan afterburner), teknologi stealth, sensor dan radar canggih, dan avionik terpadu untuk lebih meningkatkan kemampuan mendeteksi lawan.
Sementara itu, Sekjen Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg juga menyayangkan keputusan Turki membeli sistem S-400 mengingat besarnya peran salah satu anggotanya tersebut dalam proyek pembuatan F-35 dan memerangi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Selain mengerahkan tentaranya, Turki dalam operasi penumpasan NIIS, memberikan andil penting seperti menyediakan pangkalan, sarana serta prasarana tempur lainnya.
Salahkan Barrack Obama
Presiden AS Donald Trump sendiri menyalahkan pendahulunya, Presiden Barack Obama yang menjadi penyebab beralihnya pilihan Turki sehingga akhirnya membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Turki sebelumnya berniat membeli sistem pertahaan rudal Patriot AS yang sudah teruji (combat proven), digunakan oleh Israel untuk menjatuhkan rudal-rudal balistik Scud yang diluncurkan Irak ke wilayahnya dalam Perang Teluk I (1990).
Belakangan, transaksi bernilai 7,8 milyar dollar AS itu (Rp113 triliun lebih) itu dibatalkan karena Turki mensyaratkan untuk disertakan dalam pembuatan sebagian suku cadang Patriot.
Kecemasan AS lainnya, sistem rudal S-400 tidak kompatibel atau tidak terintegrasi dengan sistem pertahanan NATO, padahal kompatibilitas bagi organisasi pertahanan itu adalah hal yang paling mendasar.
Alasannya, kerahasiaan teknologi berbagai jenis alutsista (persenjataan) termasuk pesawat tempur F-35 yang sedang dikembangkan AS dengan mitra-mitranya termasuk Turki bisa-bisa bocor ke tangan Rusia.Namun seolah-olah ngledek AS, Turki malah melangkah lebih jauh, merencanakan pengembangan sistem rudal S-500 yang lebih canggih lagi ketimbang S-400 bersama Rusia
Bisa dibayangkan kerugian yang dialami NATO jika teknologi alutsista yang digunakan mereka bocor dan dimanfaatkan oleh Rusia untuk mengembangkan sistem penangkalnya.
Ketegangan hubungan AS dan Turki agaknya tidak bakal meluas karena AS dan negara-negara NATO lainnya berjanji akan tetap meneruskan kerjasama seperti latihan personil dan pengoperasian alutsista.
Hanya saja media ramai memberitakan karena sejak dibentuk pada 1949 belum ada anggota NATO yang keluar atau dikeluarkan, malah jumlahnya meningkat pasca era Perang Dingin dengan bergabungnya sejumlah negara ex- Pakta Warsawa. (AP/AFP/Reuters/ns)




