PALANGKARAYA (KBK) – Kondisi asap pekat yang berpuluh kali di atas ambang normal menurut pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menandakan kondisi udara sangat berbahaya bagi manusia. Udara benar-benar tidak bersih dan pasti menimbulkan penyakit bagi yang menghirupnya.
Kondisi ini, yang gampang terpapar adalah anak-anak dan balita. Mereka sudah dua bulan lebih diliburkan sekolah, jadi mereka tidak bisa bermain dan belajar. Para orang tua pun mengetatkan aturan untuk anak-anak mereka, agar tidak banyak main di luar rumah.
Anak-anak jadi stres, karena dunianya terampas kabut asap. Lama-lama jika dibiarkan, anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang apatis, karena hidup dalam trauma. Jadi asap tidak saja membuat kesehatan pisik mereka terganggu, tetapi juga mentalnya,” ujar Asep Beny, Direktur Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang tengah sibuk menkoordinasikan Tim Respon #MelawanAsap se-Indonesia, kepada KBK (29/10/2015).
Karena itu, kata Asep Beny, membantu anak-anak korban bencana asap, termasuk yang menjadi prioritas dari Tim Respon #MelawanAsap DMC DD.
“Berkerjasama dengan para pendongeng yang terhimpun dalam komunitas Gerakan Para Pendongeng Untuk Kemanusiaan (GePPuK) Tim Respon #MelawanAsap DMC DD berusaha agar anak Indonesia Korban Asap tetap ceria,” jelas Asep.
Kemarin Rabu (28/10/2015) Tim Respon #MelawanAsap DMC DD mengadakan dongeng ceria di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kak Oni (Ahmad Syahroni) dari GePPuK bercerita tentang Monster Asap Bin Api yang jahat. Ia mengajak ratusan anak Desa Pilang, untuk memahami bahaya asap dan selalu menggunakan masker ketika beraktifitas di luar rumah.
Hari ini, Kamis (29/10/2015), Tim Respon #MelawanAsap DMC DD di Kalteng, Acul Aziz menyampaikan kepada KBK, sedang melaksanakan dongeng ceria di Gereja Batalion Infantri 631/Antang, Jl. TJilik Riwut KM.6., Palangkaraya. Pendongengnya juga masih Kak Oni dari GePPuK dan dihadiri puluhan anak-anak. Setelah mendengar dongeng mereka diberikan masker satu per satu.





