
JAKARTA – Erupsi gunung berapi yang aktif tidak hanya berdampak destruktif bagi penduduk di sekitarnya, tetapi juga membawa betkah setelah erupsi mereda.
Muhammad Wafid, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, mengungkapkan bahwa abu vulkanik yang terbentuk selama erupsi mengandung berbagai material yang dapat menyuburkan tanah.
“Abu erupsi dapat membuat asupan tanah lebih subur pascacurah hujan,” ujarnya dalam konferensi pers bertajuk Capaian Sektor ESDM Tahun 2023 dan Program Kerja Tahun 2024 di Jakarta, Jumat (19/1/2024).
Abu vulkanik merupakan material yang terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan gelas vulkanik dengan diameter kurang dari 2 milimeter.
Proses pembentukan abu vulkanik terjadi ketika gas terlarut dalam magma mengembang dan tiba-tiba dilepaskan ke atmosfer.
Tekanan gas menghancurkan magma, mendorongnya ke atmosfer, dan membeku menjadi fragmen batuan vulkanik dan gelas vulkanik.
Abu juga terbentuk saat magma bersentuhan dengan air selama letusan freatomagmatik, menyebabkan ledakan eksplosif dan memecah magma menjadi uap.
Abu yang telah terbentuk di udara kemudian diangkut oleh angin, dapat mencapai ribuan kilometer.
Jurnal tentang pelapukan debu vulkanik Gunung Talang di Sumatra Barat, yang diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Andalas, mengungkapkan bahwa abu vulkanik mengandung mineral yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman.
Komposisi mineral tertinggi pada abu vulkanik meliputi kalsium, natrium, kalium, dan magnesium. Selain itu, terdapat unsur makro seperti fosfor dan belerang, serta unsur mikro seperti besi, mangan, seng, dan tembaga.
Bukti kesuburan tanah yang berasal dari aktivitas erupsi dapat diamati di Gunung Kelud, yang terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.
Erupsi berkelanjutan di Gunung Kelud telah berkontribusi pada penyuburan tanah di daerah sekitarnya.
Selain memberikan keberkahan bagi kesuburan tanah, erupsi gunung api juga memberikan manfaat dalam kegiatan pertambangan galian C, seperti pasir, kerikil, dan batu, yang digunakan sebagai bahan bangunan.
Masyarakat aktif melakukan kegiatan penambangan material erupsi di Gunung Semeru dan Gunung Merapi, mengambil pasir vulkanik sebagai bahan bangunan.




