
JAKARTA, KBKNEWS.id – Sepanjang semester pertama 2025 telah terjadi 76 kejadian bencana hidrometeorologi basah pada 48 kecamatan di Maluku Utara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/7) memaparkan bencana tersebut antara lain banjir dan banjir bandang sebanyak 32 kejadian, tanah longsor 11 kejadian, cuaca ekstrem delapan kejadian, abrasi tiga kejadian, erupsi gunung api dua kejadian, angin puting beliung lima kejadian, dan banjir rob satu kejadian.
Pendangkalan aliran sungai yang diperparah dengan sistem drainase di Maluku Utara yang belum memadai menjadi pemicu utama banjir. Dalam hal ini, kata dia, Kabupaten Halmahera Selatan tercatat sebagai wilayah paling sering terdampa, dengan total 19 kejadian bencana.
Dengan sederet bencana yang kerap terjadi, Kepala BNPB Suharyanto mengingatkan masyarakat di Maluku Utara untuk senantiasa mewaspadai potensi bencana meskipun wilayah tersebut dikenal dengan keindahan alamnya.
“Di balik keindahan Maluku Utara terdapat potensi risiko bencana yang cukup tinggi,” katanya.
Belajar dari banjir bandang yang melanda Kota Ternate pada 2024, Suharyanto juga mengingatkan perlunya perbaikan infrastruktur di hulu sungai penyebab banjir untuk mencegah kejadian serupa.
Selain itu BNPB turut mewaspadai potensi erupsi lima gunung api aktif di Maluku Utara yakni Gunung Gamalama, Gunung Ibu, Gamkonora, Dukono, dan Gunung Kie Besi, yang tiga diantaranya saat ini berstatus Waspada.




