
GEMPA megathrust memicu tsunami besar di selatan Pulau Jawa yang berpotensi terulang kembali dilontarkan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Purna Sulastya.
Seperti dilansir ANTARA, dikutip Kompas.com (7/8), Purna menyebutkan, prakiraan tersebut berdasarkan temuan di lapangan dan perhitungan ilmiah tentang adanya jejak endapan tsunami purba dari hasil penelitian beberapa tahun terakhir di berbagai lokasi.
Lokasi tersebut termasuk yakni sepanjang pesisir Lebak, Pangandaran, Kebumen, Gunung Kidul, dan Lumajang di wilayah selatan Jawa dilanda tsunami bermaktudo 9 bahlan lebih.
Purna mengatakan bahwa tsunami besar di selatan Pulau Jawa diperkirakan terjadi sekitar 200 tahun lagi. “Kejadian terakhir tsunami besar di selatan Jawa terjadi sekitar tahun 1500-an, dan kami ambil rata-rata interval 600 tahun,” ucapnya.
“Jadi, secara matematis tsunami berikutnya bisa terjadi sekitar 200 tahun lagi,” lanjutnya. Meski demikian, waktu terjadinya tsunami besar di selatan Jawa tersebut tidak bisa diprediksi secara pasti.
Pola interval perulangan kejadian tetap menjadi dasar ilmiah untuk membangun sistem mitigasi yang lebih antisipatif.
Sebelumnya, tsunami besar di selatan Jawa tercatat pernah terjadi sekitar 400, 1.000, dan 1.800 tahun lalu.
“Kami masih terus melacak bukti kejadian 1.000 tahun lalu di lebih banyak titik agar bisa memastikan pola perulangannya,” ujarnya.
Namun indikasi sementara, menurut Purna, menunjukkan siklus berulang yang cukup konsisten.
Oleh karenanya, Purna berharap pemerintah dan masyarakat mulai memperhitungkan risiko tersebut dalam kebijakan pembangunan dan penataan wilayah khususnya di kawasan pesisir selatan yang terus berkembang ekonomi dan infrastrukturnya.
Belum ada teknologinya
Sejauh ini belum ada teknologi yang bisa mendeteksi pemunculan tsunami, baik dalam hitungan tahun, bulan, apalagi hari, sehingga kesiapan harus selalu dilakukan mengacu pada kejadian-kejadian lalu.
Hasil penelitian tim dipimpin Guru besar Seismologi ITB Prof. Dr. Sri Widiantoro dalam paparannya yang diterbitkan Jurnal Natur Scientific Report cukup mengejutkan.
Ia menyebutkan, implikasi gempa megathrust (gempa berkekuatan besar) di selatan jawa berpotensi memicu tsunami setinggi 20 meter.
Pakar tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Ing. Widjo Kongko mengamini temuan itu dan meyakini, potensi ancaman gempa megathrust dan tsunami di zona subduksi selatan Jawa memang ada.
Mengacu pada katalog Wichman, ia memperkirakan, potensi gempa besar dan tsunami mengacu pengulangan 400-500 tahun gempa besar di zona subduksi selatan Jawa bisa terjadi dalam waktu dekat ini.
Gempa megathrust yang berpotensi tsunami setinggi 20 meter, menurut dia, bisa terjadi kapan saja walau tinggi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera bervariasi.
“Perlu diingat, gempa bumi dan tsunami merupakan siklus , jadi warga yang tinggal di pesisir harus siap dan berhati-hati,” ujarnya.
Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati M.Sc, Ph.D menyebutkan, pihaknya juga menyertakan pakar geofisika Dr. Pepen Supendi dalam penelitian potensi tsunami yang dilakukan ITB.
Menurut dia, riset dilakukan secara multidisiplin dan lintas instansi untuk mengkaji potensi gempa bumi di di zona seismic gap pada sumber gempa megathrust selatan Jawa dan memodelkan dampak dan tinggi gelombang tsunami.
Jejak Tsunami 400-an Tahun Lalu
Sementara Kepala Pusat Geoteknologi LIPI Dr. Eko Yulianto yang meneliti bekas area tsunami yang melanda pantai Pangandaran, Jawa Barat, 17 Juli 2006 menemukan jejak tsunami 400-an tahun lalu sekitar 350 meter dari garis pantai.
Kurun waktu 400 tahun lalu ditandai temuan lapisan pasir halus yang kaya dengan fosil kerang foraminifera di permukaan tebing Sungai Cikembulan yang biasanya ada di laut dalam. Fosil diperkirakan terangkat akibat tsunami besar saat itu.
Eko menyimpulkan, tsunami yang terjadi sekitar 400 tahun lalu lebih dahsyat dari dibandingkan yang melanda Pangandaran pada 2006, bahkan Aceh pada 2004 karena menyapu lebih 800 meter garis pantai.
Bahkan Peneliti Paleotsunami Pusat Geoteknologi LIPI, Pura S Putr (ANta MT menyebutkan, pihaknya juga menemukan deposit fosil dari 1.000 tahun, 1800 dan 3.000 tahun lalu.
“Mungkin lebih banyak lagi jejak tsunami yang belum ditemukan akibat keterbatasan dana riset, “ tuturnya.
Waspada dan waspada! lakukan mitigasi sehingga risiko bisa ditekan jika musibh tak terhindarkan. (ANT/Kompas.com/ns)




