spot_img

Burundi Semakin Panas, 600 Orang Mengungsi Setiap Hari

TANZANIA – Burundi semakin memanas. Negara yang berada di Benua Afrika bagian Selatan yang berbatasan dengan Tanzania dan Rwanda serta Kongo ini dilanda konflik horisontal yang cukup parah.

Presiden Burundi Pierre Nkurunziza yang mengumumkan pencalonan dirinya untuk menjadi presiden ketiga kali, yang merupakan pelanggaran terhadap konstitusi memicu gelombang protes disertai kekerasan. Rakyat yang tidak setuju melakukan unjuk rasa besar-besaran, bahkan dari faksi militer pun melakukan kudeta namun berhasil digagalkan oleh loyalis Nkurunziza.

Konflik ini membuat sebagian besar rakyat Burundi ketakutan dan memicu gelombang pengungsian yang cukup besar. Wanita dan anak-anak berusaha ke tepi pantai, mereka berbaris di pasir sambil memegangi harta mereka yang bisa mereka bawa. Mereka menunggu kapal untuk keluar dari kawasan tersebut.

Jallah Faciann, dari Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) bergerak cepat. Ia memberikan seikat band merah dan mengikatkan strip plastik di pergelangan tangan rakyat yang tidak ikut dalam konflik tersebut. Setiap hari semakin banyak yang mendatangi UNHCR dan mengenakan strip plastik itu.

“Setiap hari 600 hingga 900 orang yang mencari tempat selamat,”  kata Faciann menjelaskan seperti yang dikutip dari CNN.

Sekitar 30.000 pengungsi sudah berada di Kota Kagunga, yang pernah menjadi desa nelayan di dekat Danau Tenang Tanganyika, Tanzania.

Francine Niyongere, warga Burundi yang ikut mengungsi, menjadi ingat 12 tahun silam terjadi perang sipil di Burundi, perang itu menyebabkan 300.000 tewas dan kekerasan merebak antar etnis.

“Saya kemudian melihat, siapa pun bisa menjadi sasaran, sehingga ketika terjadi konflik kali ini, saya tidak menunggu lagi. Saya segera mengungsi,” katanya.

Sekitar 80% pengungsi sebenarnya orang lama. Bagi mereka, tampaknya lebih baik hidup susah tapi aman, dari pada di kampungnya tapi dengan risiko gejolak karena tekad Nkurinziza untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan.

UNHCR mengatakan kondisi di pengungsian juga kurang menyenangkan, beberapa toilet dan air tidak cukup.  “Ini seperti mimpi buruk,” kata Amah Assiama-Hillgartner dari UNHCR yang bertugas di sana. “Dan sampai sekarang masalah ini belum terselesaikan.”

Sejauh ini lebih dari 12 orang telah meninggal akibat komplikasi diare dan penyakit lainnya. Ancaman wabah penyakit dan persoalan kekurangan pasokan untuk pengungsi ini harus segera dituntaskan. *

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles