
CHINA seolah-olah mencari gara-gara, menerbitkan lagi peta baru dengan memasukkan wilayah yang masih dipersengketakan oleh sejumlah negara di kawasan Laut China Selatan (LCS) dan juga dengan tetangganya, India.
Peta yang diterbitkan, Senin (28/8) memasukkan sejumlah wilayah di LCS yang masih dalam sengketa ke dalam wilayah kdaulatannya sehingga memancing reaksi keras dari negara-negara tersebut.
“Filipina menolak klaim China yang dimasukkan dalam peta terbaru yang diterbitkannya dan akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi kedaulatan kami, “ seru Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr di Puerto Princessa, Kep. Palawan, Jumat (31/8).
China sejauh ini terlibat klaim tumpang tindih dengan Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Vietnam di Laut LCS. Sampai 80 persen dari dua juta km2 wilayah LCS yang disebut China termasuk dalam “sembilan garis putus-putus (nine-dash line-NDL) diklaim sebagai wilayahnya.
Bahkan China juga mengklaim dengan apa yang disebutkannya sebagai wilayah operasi nelayan tradisional (traditional fishing ground) sampai perairan Natuna utara, padahal klaim tersebut tidak diakui berdasarkan Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.
Peta baru China juga menuai protes negara tetangganya, India, dengan dimasukkanna wilayah Aksai Chin di kaki Himalaya yang masih dipersengkatakan, bahkan juga memasukkan negara bagian Arunachal Pradesh dan Dataran Diri Doklam yang resmi milik India.
China dan India terlibat konflik di wilayah sengketa di Lembah Galwan, di Ladaksh, Negara Bagian Aksai Chin pada 2020 yang mengakibatkan tewasnya 20 tentara India dan empat tentara China.
Ironisnya, penerbitan peta baru itu dilakukan sepekan setelah China yang tergabung dalam aliansi kerjasama BRIC (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) menggelar KTT di Johanneburg, Afsel, pekan lalu dan dijadwalkan mengikuti KTT G20 di India dan KTT ASEAN di Jakarta pekan depan.
“Klaim China sangat absurd dan tidak berdasarkan fakta apa pun, “ kata Menlu India Subhrahmanyam seperti dikutip NDTV, sementara protes juga dilayangkan oleh Malaysia, Filipina dan Vietnam.
Selain mengklaim wilayah yang masuk NDL, China juga mengklaim Taiwan yang disebutnya garis ke sepuluh di LCS sebagai wilayah otonom.
Lebih jauh lagi, peta terbaru tersebut juga bisa memicu konflik dengan Rusia, karena China juga mengklaim Pulau Bolshoy Ushurysky yang terletak di antara Sungai Amur dan Sungai Ussur, padahal sekitar 20 tahun lalu, China dan Rusia sepakat membagi dua pulau tersebut.
Ulah China dikhwatirkan bisa memicu wilayah konflik di LCS dan Selat Taiwan, dan juga memacu perlombaan persenjataan di kawasan ini.




