
BERITA seputar kawasan Himalaya yang biasa diramaikan oleh para pendaki ke puncak gunung tertinggi di dunia di wilayah tersebut akhir-akhir ini terusik ketegangan antara China dan India.
Di tengah latihan peluncuran rudal dan penembakan artileri berat di wilayah Tibet sebagai unjuk gigi yang digelar pekan lalu, China mengingatkan India agar segera hengkang dari wilayah sengketa di kawasan itu.
Satuan militer India memasuki Dataran Tinggi Doklam, Bhutan setelah negara kecil mitra India di kawasan Himalaya itu mengeluhkan langkah Tentara Rakyat China membangun jalan di wilayah teritorialnya.
Pihak China menyebutkan, Doklam berada di wilayah perbatasan Tibet yang sejauh ini masih dipersengketakan antara China dengan Buthan, sehingga menganggap tidak ada alasan bagi India untuk ikut campur .
China dalam pernyataannya yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ren Guoqiang Kamis pekan lalu (3/8) menyebutkan, pasukan China sejauh ini telah berusaha menunjukkan itikad baik dan menahan diri dari konflik. “Kesabaran (kami) ada batasnya, “ demikian isi pernyataan tersebut.
Sebaliknya India ingin mendesak China agar tidak mengubah status quo terkait sengketa perbatasan antara China dan Buthan di Doklam yang sudah dinegosiasikan antara kedua negara sejak dekade ’80-an lalu.
India menganggap, proyek pembangunan ruas jalan yang dilakukan China menganggu proses pemetaan perbatasan yang sedang dilakukan oleh kedua negara (China dan Buthan) dan berdampak serius bagi keamanan India.
Namun sejauh ini pihak India walau merasa prihatin terhadap aksi yang dianggap memicu persoalan di perbataan antara Buthan dan China serta China dan India, masih berupaya mengajak negara tetangganya itu untuk menempuh jalur diplomasi.
“Perang bukan solusi, “ tandas Menteri Luar Negeri India Sushma Swaraj pada parlemen negara itu pekan lalu.
Para pakar India menganggap, melalui pembangunan akses jalan tersebut, China berusaha mempersingkat akses menuju wilayah India yang dikenal sebagai “leher ayam”, dan jika China menutup koridor tersebut akan membuat kawasan India timur laut terisolasi dari dunia luar.
Sebaliknya, China yang agaknya lebih “PD” karena merasa memiliki mesin perang yang lebih kuat, mengingatkan India untuk segera menarik pasukannya tanpa syarat .
“Jika China sekarang mundur, India di masa mendatang bakal semakin berani membuat kekacauan, “ demikian pandangan pakar China yang dikutip Kantor Berita Xinhua.
China dan India adalah dua negara berkekuatan nuklir di Asia yang pernah terlibat dalam perang perbatasan di wilayah Aksan Chin dan Arunachal Pradesh pada Oktober 1962.
China berhasil menguasai kedua wilayah tesebut dalam perang yang berlangsung sekitar sebulan dengan korban lebih 1.000 anggota tentara kedua belah pihak.
Kedua negara yang semula banyak menggunakan alutsista peninggalan ex-Uni Soviet, saat ini terus berupaya membangun kekuatan militernya dengan persenjataan modern.
Setelah dirampingkan dengan mengurangi 300.000 personilnya menjadi dua juta personil atau masih menjadi kekuatan militer terbesar di dunia, China terus meningkatkan kemampuan misalnya dengan membangun kapal induk sendiri, menciptakan rudal anti kapal induk Dong Feng DF-20 dan pesawat tempur berkemampuan siluman (stealth) Chengdu J-20.
India juga berupaya mengembangkan kekuatan militernya misalnya bekerjasama dengan Rusia mengembangkan rudal Brahmos, tank-tank tempur dan memodifikasi pesawat-pesawat tempur buatan Rusia.
Sejauh ini, agaknya ketegangan antara China dan India masih sebatas dinamika hubungan antartetangga, dan diharapkan tidak berkembang menjadi situasi yang lebih serius lagi. (AP/Reuters/NS)




