
PEMERINTAH China menentang intervensi oleh negara lain, merespons keras ancaman Presiden AS Donald Trump yang sesumbar akan melancarkan invasi militer ke Iran jika aparat kamanan menembaki para pendemo.
“Kami selalu menentang campur tangan urusan internal negara lain,” kata Jubir Kemenlu China, Mao Ning dalam jumpa pers rutin di Beijing (15/1) saat ditanya tentang ancaman Trump itu.
“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” ujarnya.
Iran diguncang aksi-aksi protes yang sudah merambah di seluruhnya 31 provinsi, meski aparat keamanan mengambil tindakan keras, bahkan  menurut kelompok-kelompok HAM telah terjadi  “pembantaian.”
Sementara itu Presiden Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer, jika Teheran menembaki  para demonstran.
Sebaliknya Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan Israel – musuh-musuh Iran- berupaya menebar teror dan instabilitas di negaranya, setelah gagal membuat Iran bertekuk lutut dalam perang pada Juni tahun lalu.
“Musuh-musuh Iran berupaya menebar kekacauan dan ketidakstabilan,” kata Pezeskhian dalam pernyataannya di stasiun TV pemerintah Iran, seperti dilansir Anadolu.
Ini menjadi pernyataan pertama Pezeshkian sejak terjadi gelombang unjuk rasa memprotes kondisi ekonomi yang memburuk sejak 28 Des., Â namun kemudian berubah menjadi aksi anarkis.
Menuduh AS sebagai dalangnya
Pezeshkian mengecam serangan baru-baru ini terhadap tempat-tempat umum, termasuk masjid di Teheran dan kota-kota Iran lainnya dan menuding AS dan Israel atas sebagai dalangnya.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menuduh AS dan Israel “melatih kelompok-kelompok tertentu” di dalam negeri dan di luar negeri, serta membawa “para teroris dari luar negeri” untuk membakar masjid, pasar, dan tempat-tempat umum.
“Orang-orang ini terlatih,” ujarnya dalam wawancara pada Minggu (11/1) waktu setempat, seperti dikutip Press TV.
Menurut dia, musuh telah menyusupkan para teroris terlatih ke Iran, sedangkan para perusuh dan pelaku sabotase bukanlah pengunjuk rasa.
Pezeshkian menyebutkan, pemerintah mendengarkan keluhan para demonstran dan telah melakukan upaya maksimal untuk memenuhi tuntutan mereka.
Pelakunya para penyusup
Menurut Pezeshkian, para penyusup telah membunuh beberapa orang dengan senjata, membakar yang lain dan  memenggal beberapa orang.
“Sungguh, kejahatan ini di luar sifat bangsa kita. Mereka bukan rakyat kita. Bukan rakyat negara ini. Jika seseorang berunjuk rasa untuk negara ini, kita (pasti-red) mendengarkan dan menanggapi kecemasan dan protes mereka,” ujarnya.
Pezeshkian dalam pernyataannya  menegaskan kembali bahwa AS dan Israel berada di balik kerusuhan di Iran.
Ia menuduh kedua negara itu gagal membuat rakyat Iran “bertekuk lutut” selama perang 12 hari pada Juni lalu, dan sekarang berusaha melakukan hal yang sama melalui aksi-aksi kerusuhan.
Korban-korban terus bertambah dan seperti dilaporkan Putera Mahkota Iran dalam pengasingan Reza Pahlavi, jumlah yang tewas sudah mencapai 12.000 orang walau dibantah oleh Menlu Iran Abbas Araghchi yang menyebutkan hanya ratusan orang.
Korban-korban tewas, menurut Araghchi, juga bukan akibat kekerasan atau aksi represif oleh aparat keamanan, tapi bentrok antara pasukan pemerintah dan penyusup asing.




