
LONGGARNYA penanganan Covid-19 di sejumlah daerah dicemaskan bakal memicu gelombang serangan ketiga penyakit akibat virus SARS-CoV-2 yang saat ini tren penyebarannya terus menurun.
Pada helat PON XX di Papua yang sedang berlangsung sampai 14 Oktober saja tampak para penonton yang mengabaikan prokes Covid-19 seperti tidak mengenakan masker atau berkerumun dan tidak menjaga jarak.
Di ibukota saja, di sejumlah masjid sudah tidak tampak pemeriksaan suhu badan, juga sebagian sudah tidak mengenakan masker, sementara MUI juga sudah memperbolehkan jamaah merapatkan shaft saat shalat.
Melonggarnya penanganan Covid-19 tercermin dari turunnya Indeks Pengendalian Covid-19 (IPC) terhadap aspek manajemen infeksi dan manajeman pengobatan yang diselenggarakan oleh harian Kompas yang kini sudah memasuki pekan ke-11.
Untuk indeks manajemen infeksi, pada pekan ke-11 di penghujung September menjadi 35 atau turun tiga poin dari pekan sebelumnya (48). Penurunan banyak terjadi di wilayah Indonesia timur terutama Papua (turun 10 poin), Maluku Utara (turun 8), Sulawesi Tenggara (turun 4) dan Gorontalo (turun 5).
Di wilayah P Jawa, misalnya, indeks manajemen infeksi juga turun lima pon dari 70, sementara di DI Yogyakarta dan Banten, masing-masing turun dua poin dari 76 dan 80.
Sementara Ahli virologi Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika memprediksi, dari pola tahun lalu (2020) gelombang ketiga Covid-19 diperkirakan akan terjadi pada Januari atau Februari 2022.
Hal itu, menurut dia terjadi akibat pelonggaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), capaian vaksin vaksinasi yang masih rendah serta kemungkinan menyebarnya varian baru.
Menurut catatan, sampai saat ini vaksinasi pertama sudah diterima sekitar 90 juta penduduk, sementara suntikan kedua baru sekitar 51,1Â juta penduduk, sedangkan untuk mencapai herd immunity, vaksinasi harus menjangkau 208,2 juta penduduk.
Namun demikian, dampak kematian pasien Covid-19 pada gelombang serangan ke-3 nanti bisa diminimalisasikan jika program percepatan vaksinasi bisa dikebut.
“Vaksinasi akan dapat menekan angka kematian walau pun pencegahan penularan di tengah komunitas tidak dapat dicegah, “ ujarnya.
Jadi, kepatuhan pada prokes, peningkatan testing dan tracing serta percepatan vaksinasi dan antisipasi varian baru akibat mutase virus harus terus dijalankan.
Lonjakan Covid-19 di Daerah Perlu Diantisipasi
LONGGARNYA penanganan Covid-19 di sejumlah daerah dicemaskan bakal memicu gelombang serangan ketiga penyakit akibat virus SARS-CoV-2 yang saat ini tren penyebarannya terus menurun.
Pada helat PON XX di Papua yang sedang berlangsung sampai 14 Oktober saja tampak para penonton yang mengabaikan prokes Covid-19 seperti tidak mengenakan masker atau berkerumun dan tidak menjaga jarak.
Di ibukota saja, di sejumlah masjid sudah tidak tampak pemeriksaan suhu badan, juga sebagian sudah tidak mengenakan masker, sementara MUI juga sudah memperbolehkan jamaah merapatkan shaft saat shalat.
Melonggarnya penanganan Covid-19 tercermin dari turunnya Indeks Pengendalian Covid-19 (IPC) terhadap aspek manajemen infeksi dan manajeman pengobatan yang diselenggarakan oleh harian Kompas yang kini sudah memasuki pekan ke-11.
Untuk indeks manajemen infeksi, pada pekan ke-11 di penghujung September menjadi 35 atau turun tiga poin dari pekan sebelumnya (48). Penurunan banyak terjadi di wilayah Indonesia timur terutama Papua (turun 10 poin), Maluku Utara (turun 8), Sulawesi Tenggara (turun 4) dan Gorontalo (turun 5).
Di wilayah P Jawa, misalnya, indeks manajemen infeksi juga turun lima pon dari 70, sementara di DI Yogyakarta dan Banten, masing-masing turun dua poin dari 76 dan 80.
Sementara Ahli virologi Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika memprediksi, dari pola tahun lalu (2020) gelombang ketiga Covid-19 diperkirakan akan terjadi pada Januari atau Februari 2022.
Hal itu, menurut dia disebabkan oleh pelonggaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), capaian vaksin vaksinasi yang masih rendah serta kemungkinan menyebarnya varian baru.
Namun demikian, dampak kematian pasien Covid-19 pada gelombang serangan ke-3 nanti bisa diminimalisasikan jika program percepatan vaksinasi bisa dikebut.
“Vaksinasi akan dapat menekan angka kematian walau pun pencegahan penularan di tengah komunitas tidak dapat dicegah, “ ujarnya.
Jadi, kepatuhan pada prokes, peningkatan testing dan tracing serta percepatan vaksinasi dan antisipasi varian baru akibat mutase virus harus terus dijalankan.




