
PERDAMAIAN hakiki masih jauh untuk bisa terwujud di Semenanjung Korea, tetapi musik telah berhasil menautkan relung sanubari bangsa Korea Selatan dan Korea Utara yang hingga kini masih dalam status perang.
Penampilan grup musik Korsel beranggotakan 120 orang termasuk legenda band remaja perempuan K-Pop, Red Velvet mengguncang East Pyongyang Great Theater, Minggu lalu (1/4) yang dihadiri sekitar 1.200 orang termasuk Pemimpin Korut Kim Jong Un dan isteri, Ri Sol Yu serta adik perempuannya, Kim Yo Jong.
Sukses dengan pertunjukan perdana mereka dalam konser bertajuk “Musim Semi Telah Tiba”, para musisi Korsel itu akan menggebrak lagi, Selasa ini (3/4)di gedung gimnasium Ryugyong, Pyongyang, dihadapan sekitar 12.000 penonton.
Konon Jong Un bersama isteri dan adik perempuannya menikmati suguhan musisi dan penyanyi tamu itu dengan beberapa kali melakukan “standing ovation” dan bertepuk tangan.
Warga Korut penonton konser ikut terbuai bersama-sama melantunkan lagu “Our Wish is Unification” yang sangat populer di negara itu sambil melambai-lambaikan tangannya.
Seusai konser berdurasi dua jam itu, Jong Un tampak menyalami para penyanyi dan artis tamu, mengucapkan terima kasih atas “kado” yang diberikan mereka bagi rakyat Korut serta berharap acara semacam itu sering-sering digelar.
“Saya terharu menyaksikan rakyat menikmati dan memahami tampilan seni-budaya Korsel, “ tutur pemimpin tertinggi Korut itu.
Lagu-lagu atau apapun yang “berbau” Korsel termasuk kisah drama di sinetron, selama ini tabu dan dianggap racun di Korut, walau secara sembunyi-sembunyi rakyat menyetel dari USB yang dibeli di pasar gelap.
Merekam atau mendengarkan lagu Korsel yang dianggap budaya borjuis, kapitalis serta ke barat-baratan selama ini diharamkan di Korut.
Di tapal batas kedua negara, Korut memasang pengeras-pengeras suara berukuran jumbo untuk meneriakkan propaganda atau mengumandangkan lagu-lagu mars, sebaliknya pihak membalasnya dengan memasang lagu-lagu K-Pop yang ternyata juga disukai rakyat Korut.
Tidak pelak lagi, kehadiran artis-artis dan musisi Korsel menjadi buah bibir, euforia warga Korut, khususnya Pyongyang, melupakan sejenak, udara perang yang selalu dihembus-hembuskan dalam bentuk propaganda dan ujaran permusuhan.
Sejak Olimpiade PyeungChang
Drama rekonsiliasi antarbangsa serumpun itu sudah berlangsung sejak Olimpiade Musim Dingin di PyeungChang, Korsel, Februari lalu yang diikuti kontingen atlit dan pejabat tinggi Korut dipimpin oleh Kim Yo Jong.
Di luar panggung musik, pada saat bersamaan, pasukan Korsel dan AS melancarkan latihan militer rutin bersama yang sempat ditunda di tengah helat Olimpiade Musim Dingin di PyeungChang Februari lalu.
Mungkin sedang asyik dibuai penyanyi K-Pop, rezim Korut tidak bereaksi atas latihan bersama tersebut, padahal biasanya mereka sangat berang dan membalasnya dengan peluncuran rudal balistik atau melakukan ujicoba nuklir.
Namun sejumlah pengamat tetap curiga sikap melunak yang ditunjukkan Jong Un termasuk untuk hadir dalam pertunjukan konser Korsel hanyalah akal-akalan dan mengulur-ulur waktu untuk menuntaskan program nuklirnya atau agar masyarakat internasional mengendurkan sanksi ekonomi mereka.
Tidak ada yang bisa memastikan jalan fikiran orang, termasuk yang ada di benak Jong Un, namun yang jelas, dunia dan rakyat Korea mendambakan perdamaian sesungguhnya.
(AFP/Reuters/NS)




