Ditemukan Lagi, Ikan Ekspor Terpapar Covid-19

Untuk kesekian kalinya otoritas Bea Cukai China menemukan produk ikan beku yang diimpor dari RI terkontaminasi Covid-19.

OTORITAS Bea dan Cukai China melaporkan telah menemukan lagi jejak virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 pada sejumlah produk dan kemasan hasil laut beku yang diimpornya dari wilayah Indonesia.

Kapus Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Kemanan Hasil Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM-KKP) Widodo mengemukakan hal itu usai berunding dengan delegasi China di Jakarta, Rabu (2/12).

Dua temuan terakhir pada awal Desember, menambah tiga lagi temuan sebelumnya, menempatkan ekspor hasil laut RI yang paling banyak ditemukan kontaminasi virus SARS-CoV-2 yang dieskpor ke China.

Sejauh ini Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam dokumen “Covid-19 dan Keamanan Pangan: Petunjuk Bisnis Makanan”  menyatakan belum ada bukti-bukti, transmisi virus dari produk makanan pada manusia.

Namun demikian, upaya pengurangan risiko terkontaminasi virus SARS-CoV-2 pada permukaan produk makanan dan kemasannya juga merupakan hal penting yang perlu dilakukan agar terhindar dari paparannya.

China menempati urutan tertinggi volume ekspor produk perikanan RI pada 2019  yakni 438.122 ton dengan nilai devisa 1,3 milyar dolar AS (sekitar Rp19,2 triliun) disusul AS 218.184 ton dengan 1,87 milyar dolar AS (sekitar Rp27,7 triliun).

Dalam pertemuan dengan pejabat KKP baru-baru ini, China masih memberikan kesempatan bagi RI untuk tetap bisa mengekspor hasil laut ke negaranya dengan sejumlah persyaratan ketat.

Namun jika berulang lagi, China akan menghentikan impor ikan beku dari RI ke depannya, sehingga jika hal ini terjadi, tentu menjadi ancaman serius bagi para pemangku kepentingan di KKP dan eksportir untuk meningkatkan pengawasan.

Berdasarkan catatan di KKP, dari 663 perusahaan pengekspor hasil olahan ikan ke China, 94 perusahaan diantaranya sudah dicabut izin usahanya karena tidak menerapkan jaminan mutu dan standar keamanan pangan.

 

 

 

Advertisement