JAKARTA, KBKNEWS.id – Suasana haru mewarnai acara Dompet Dhuafa saat lembaga filantropi itu mengumumkan pemberangkatan umrah gratis bagi 10 guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang selama ini mengabdi di wilayah pelosok.
Program tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para pendidik yang tetap setia mengajar di tengah medan dan fasilitas serba terbatas.
Para guru terpilih berasal dari berbagai daerah, mulai dari Nusa Tenggara Barat hingga pelosok Sumatra. Dukungan para donatur disebut menjadi bagian penting yang membuat program apresiasi ini terwujud, sekaligus memperkuat komitmen Dompet Dhuafa dalam mendorong pemerataan akses pendidikan.
Salah satu penerima apresiasi adalah Riyati, guru dari Kepulauan Meranti, Riau. Sejak 2012, jauh sebelum menjadi guru honorer, ia mengajar anak-anak Suku Akit yang belum tersentuh pendidikan formal. Ia bahkan memanfaatkan sebuah saung sebagai ruang belajar sebelum akhirnya kelompok itu diakui dan menjadi bagian dari SDN 12 Sokop.
“Yang penting adalah kemauan anak-anak untuk belajar. Di mana pun tempatnya, kita tetap bisa belajar,” ujar Riyati. Ia mengaku tak menyangka perjuangannya selama ini mengantarkannya menjadi tamu Allah di Tanah Suci.
Kisah lain datang dari Era, guru honorer di Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan. Sejak 2018, akses menuju sekolah sudah menjadi tantangan tersendiri: perjalanan 24 kilometer yang harus ditempuh dengan dua kali naik perahu ketek dan melintasi tiga desa menggunakan sepeda motor. Ketika banjir datang, jembatan di jalur tersebut kerap terputus.
Era sempat ingin menyerah, namun semangat murid-muridnya membuat ia bertahan. Kabar pemberangkatan umrah menjadi kejutan besar baginya. “Masih seperti mimpi,” tuturnya haru.
Dompet Dhuafa berharap penghargaan ini dapat menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk terlibat mendukung guru-guru pelosok melalui program Donasi Bantu Guru Honorer Sejahtera. Dompet Dhuafa juga menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan dampak sosial, khususnya dalam pemerataan pendidikan.




