PURWOKERTO – Salah satu penderita disabilitas tunarungu Kurnia Rahmah Haq (17), merasakan keberuntungan atas kehadiran Program Peduli Tunarungu Indonesia, yang digagasĀ Dompet Dhuafa.
Dulu, remaja kelas tiga sekolah menengah pertama ini malu dengan kondisinya yang sejak kecil mengalami ke-tulian. Komunikasi yang sulit dengan orang-orag disekitar dan juga teman sekolah, membuat Rahma sejak senang mengurung diri. Prestasinya sempat terukir di sekolah umum pada jenjang sekolah dasar, namun pada jenjang menengah pertama, rasa rendah diri membuat prestasiya menurun.
Namun Ramadhan 1438H/2017 menjadi moment yang tidak terlupakan bagi Rahma dan orang tuanya. Alat Bantu Dengar (ABD) senilai jutaan rupiah dari Dompet Dhuafa Jateng membuat sebagian dunianya kembali.
Sutrisno (52), Ayah Rahma, hanya pedagang mie ayam keliling, yang tidak pernah terbayang mampu membeli ABD untuk anaknya. Rahma kehilangan pendengaran sejak usia 2 tahun karena sakit. Namun tekad Sutrisno dan istri tetap menyekolahkan di sekolah umum agar anaknya tetap berkembang.
Ia tidak ingin anaknya minder dengan kekurangannya. Ketelatenan ayah empat putra ini berhasil, dengan segala keterbatasan Rahma bahkan pernah menjuarai Olimpiade Sains Kabupaten sewakru sekolah dasar, dan selalu masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya hingga sekolah menengah pertama.
Selain Rahma ada beberapa anak disabilitas tunarungu dari Kota Purbalingga, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap beruntung mendaptkan ABD dari program Peduli Tunarungu Indonesia.
Ikhtiar tidak berhenti melalui program charity, Peduli Tunarungu Indonesia juga menjadi wadah orang tua dengan anak-anak tunarungu untuk sharing dan saling menguatkan satu sama lain.





