Jakarta, KBKNews.id – Kabar baik datang dari panggung ekonomi domestik. Di tengah bayang-bayang kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang hari besar, laju inflasi Indonesia pada Maret 2026 justru menunjukkan tren mendingin. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat berada di level 3,48 persen secara tahunan (yoy), sebuah angka yang dinilai sangat krusial karena berada tepat di dalam koridor target sasaran Bank Indonesia.
Angka ini menandai penurunan signifikan jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 4,76 persen. Meski berada di ambang batas atas sasaran (2,5±1 persen), otoritas moneter meyakini stabilitas harga masih terkendali berkat kerja sama lintas sektoral yang intensif.
Sinergi Pengendalian Harga di Tengah Idulfitri
Keberhasilan menjaga inflasi di level aman ini diklaim sebagai buah manis dari kekompakan kebijakan moneter dan langkah nyata pemerintah di lapangan. Bank Indonesia (BI) mencatat Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID) berperan besar dalam menjaga rantai pasok pangan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Inflasi Indeks Harga Konsumen pada Maret 2026 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Hasil ini berkat konsistensi kebijakan moneter serta sinergi erat antara BI dan pemerintah pusat maupun daerah dalam program ketahanan pangan nasional,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Kamis (2/4/2026).
Melandainya inflasi inti ke level 2,52 persen (yoy) juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni penurunan harga emas global, serta terjaganya ekspektasi masyarakat meskipun permintaan domestik melonjak tajam selama perayaan Idulfitri.
Harga Pangan dan Transportasi: Dua Sisi Koin
Sektor pangan yang sering bergejolak (volatile food) terpantau mendingin ke angka 4,24 persen secara tahunan. Walaupun harga daging ayam, telur, dan beras sempat naik karena tingginya permintaan Lebaran, pasokannya dinilai cukup untuk meredam lonjakan harga yang lebih liar.
Sebaliknya, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mengalami kenaikan bulanan sebesar 0,31 persen (mtm). Hal ini dipicu oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta melambungnya tarif angkutan antarkota seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat saat musim mudik. Namun, secara tahunan, inflasi kelompok ini masih jauh lebih rendah dibanding tahun lalu, yakni di level 6,08 persen.
Benteng Eksternal: Surplus Dagang 70 Bulan Beruntun
Di sisi lain, ketahanan ekonomi Indonesia semakin kokoh berkat performa neraca perdagangan yang impresif. Hingga Februari 2026, Indonesia mencatatkan surplus sebesar 1,27 miliar USD. Pencapaian ini sangat istimewa karena memperpanjang rekor surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Kekuatan ekspor Indonesia saat ini ditopang oleh produk nonmigas, mulai dari minyak nabati hingga manufaktur kendaraan, dengan negara tujuan utama seperti China, Amerika Serikat, dan India.
“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini sangat positif untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tambah Denny.
Dengan inflasi yang melandai dan cadangan devisa yang terus terisi lewat surplus perdagangan, Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi ketidakpastian global di sisa tahun 2026. BI optimistis inflasi akan tetap berada di jalur target 2,5±1 persen hingga tahun 2027 mendatang.





