Ekonomi Rusia Makin Parah

Para pensiunan di kota Chelyabinsk Rusia tengah memilih membeli makanan kadaluwarsa karena harga pangan melonjak akibat tekanan AS dan Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina 24 Feb. 2022

PARA pensiunan di kota Chelyabinsk di Rusia tengah mulai membeli makanan kedaluwarsa, sementara penduduk lainnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka akibat lonjakan harga-harga.

Itu lah gambaran belitan kesulitan ekonomi yang dihadapi negara Beruang Merah itu sejak invasi milter yang digelarnya terhadap negara tetangganya, Ukraina sejak 24 Februari.

Memasuki hari ke-348 (8/2), perang masih berkecamuk di berbagai front di Ukraina, bahkan bereskalasi, karena pasukan Ukraina yang kalah dalam jumlah peralatan dan personil, ternyata mampu bertahan, bahkan sering menyulitkan gerak maju tentara Rusia terutama akibat aliran persenjataan dari AS dan Barat.

Dengan merosotnya ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, membeli makanan kedaluwarsa di pasar-pasar lokal menjadi biasa di kalangan pensiunan Rusia yang bergantung pada uang pensiun yang jumlahnya relatif kecil.

Sebagai alternatifnya, menurut warga setempat, mereka lebih melirik  makanan kedaluwarsa akibat harga-harga kebutuhan pokok  yang terus melonjak di supermarket.

“Dulu kami membeli sosis dan daging, sekarang kami harus berhemat untuk ini,” kata Lyudmila, salah seorang pembeli di pasar terbuka, kepada kantor berita Associated Press. Pembeli lain, Tatiana menyebut harga daging sangat mahal di pasaran.

“Saat ini, orang tidak dapat memilih antara babi dan sapi. Daging sapi sangat mahal,” jelas dia. Penduduk setempat berbicara tentang harga makanan yang naik dua kali lipat di supermarket.

Ini menjasi alasan utama warga pada akhirnya terpaksa memilih produk kedaluwarsa yang lebih murah.

Setelah dimulainya invasi militer Rusia di Ukraina, ekonomi Rusia menghadapi gelombang sanksi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kenaikan harga pangan yang tajam.

Menurut Dana Pensiun Rusia, pensiun rata-rata pada Juni 2022 besarnya 20.882 rubel (sekitar Rp4,35 juta) per bulan.

Sebelumnya Menteri Ekonomi Rusia era 90-’an Andrea Nechaev memprediksi, perekonomian negaranya terus anjlok, kemungkinan menghadapi stagnasi jangka panjang untuk membiayai perang dan aksi embargo yang dijatuhkan Barat.

Bahkan dari sisi standar hidup diukur dari pendapatan rill, perekonomian Rusia mundur satu dekade dan berpendapat, hanya bisa bertahan jika ditopang sektor energi dengan memberikan harga bersaing pada pembeli baru.

Rusia kesulitan menjual hasil energinya, karena walaupun negara-negara Uni Eropa memerlukannya, mereka bersama-sama sepakat memboikot pembelian dari Rusia untuk membuatnya tidak mampu membiayai perang. (AP/ns)

 

 

Advertisement