Eksotisme Sumur Raksasa Alami di Donggala

0
129
Pusat Laut atau Pusentasi yang berbentuk sumur raksasa di terletak di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. (Foto: Instagram.com/trybowo.laksono)

DONGGALA – Sulawesi Tengah memiliki banyak keindahan alam yang tak kalah menarik dibandingkan dengan destinasi wisata di provinsi lain di Indonesia. Provinsi ini dikelilingi oleh berbagai macam bentang alam, mulai dari pegunungan tinggi hingga teluk dan pantai.

Ketika mengunjungi daerah ini, para wisatawan akan terpesona. Ada banyak pilihan objek wisata dengan keindahan alam yang memanjakan mata.

Berjarak sekitar 50 km dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, para wisatawan akan menemukan salah satu objek wisata yang unik dan eksotis, yaitu Pusentasi atau Pusat Laut yang berbentuk sumur raksasa.

Sumur raksasa ini terletak di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang juga dikenal sebagai Desa Wisata Pusat Laut Donggala.

Lokasi ini tidak terlalu jauh dari Kota Palu, dan dapat dicapai dalam waktu perjalanan 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan darat, baik sepeda motor maupun mobil.

Jalan-jalan di sekitar lokasi ini dalam kondisi yang baik dan pemandangan alam yang indah sepanjang perjalanan membuat perjalanan terasa dekat. Walaupun ada beberapa tanjakan di sepanjang perjalanan, itu bukanlah masalah.

Untuk mengunjungi Desa Wisata Pusat Laut Donggala, para wisatawan hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp2.500 per orang.

Masyarakat setempat menyebut sumur raksasa ini Pusentasi. Nama Pusentasi berasal dari bahasa Suku Kaili, suku terbesar yang tinggal di Provinsi Sulawesi Tengah. Pusen berarti pusat dan tasi berarti Laut.

Oleh karena itu, sumur raksasa tersebut dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Pusentasi atau Pusat Laut.

Menurut cerita dari masyarakat lokal, Pusat Laut terbentuk karena kejadian alami di mana tanah tiba-tiba ambruk ke dalam tanah dan membentuk sebuah sumur yang berbentuk melingkar.

Sumur besar ini memiliki diameter sekitar 10 meter dan kedalaman sekitar 7 meter. Air di dalamnya memiliki warna biru yang jernih dan rasanya asin seperti air laut.

Masyarakat setempat percaya bahwa air dari sumur Pusat Laut memiliki sifat penyembuhan untuk penyakit kulit. Keunikan lainnya adalah air dalam sumur raksasa ini naik saat air laut sedang surut dan turun saat air laut sedang pasang.

Dengan cuaca yang panas di pesisir dan pemandangan birunya sumur laut, pengunjung seakan tersihir untuk segera melompat ke dalam lubang besar ini. Terdapat tangga yang disediakan bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi berenang di dalam sumur tersebut.

Di sana, pengunjung akan menemui anak-anak dari masyarakat lokal yang melakukan atraksi melompat ke dalam sumur. Terlihat bahwa anak-anak dari masyarakat setempat dengan berani melompat dari tepian sumur yang memiliki ketinggian sekitar 5-7 meter dari permukaan air. Bagi masyarakat setempat, hal ini merupakan kebiasaan mereka untuk melompat di sumur Pusat Laut.

Dalvian, yang berusia 13 tahun, mengaku telah berenang dan mulai melompat dari tepian sumur sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengatakan bahwa ia tidak lagi merasakan rasa takut saat melompat.

Ia menjelaskan bahwa dirinya melompat untuk mengagumkan para pengunjung, yang kemudian akan melemparkan koin atau sejumlah uang kepada mereka yang melompat.

Dalvian mengungkapkan bahwa pada hari-hari ketika pengunjung ramai, seperti pada akhir pekan, ia dapat mengumpulkan antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

“Uangnya digunakan untuk membantu di rumah dan untuk membeli beras,” kata siswa kelas satu sekolah menengah pertama (SMP) tersebut.

Seorang anak lainnya, Fikram yang berusia 12 tahun, mengaku mulai melompat dari tepian sumur sejak kecil.

Ia juga mengatakan bahwa uang yang ia dapatkan digunakan untuk membantu keluarganya dalam kehidupan sehari-hari.

Fikram menjelaskan bahwa setiap koin yang mereka dapatkan akan menjadi milik masing-masing anak yang mendapatkannya, sehingga itulah alasan mengapa anak-anak berebut untuk mendapatkan koin yang dilemparkan oleh pengunjung.

Pusat Laut selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun dari luar daerah yang ingin bersantai dan berenang dengan melompat dari ketinggian.

Beberapa wisatawan juga terlihat tidak ingin melewatkan sensasi melompat dari ketinggian. Namun, tidak disarankan bagi pengunjung yang tidak mahir berenang karena kedalaman sumur mencapai 7 meter.

Pantai Donggala

Di Desa Wisata Pusat Laut Donggala, selain sumur raksasa yang menakjubkan, pengunjung juga dapat menikmati keindahan Pantai Donggala yang terkenal dengan pasir putihnya.

Pantai yang mempesona ini merupakan tempat yang sempurna untuk berjemur sambil menikmati sinar Matahari dan teduhnya pepohonan, tempat yang ideal untuk melepas penat sejenak.

Pantai Donggala juga menjadi lokasi yang tepat bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan matahari terbenam yang berwarna keemasan. Bagi mereka yang ingin menginap atau berkemah bersama keluarga, tempat ini juga memperbolehkan hal tersebut.

Banyak pengunjung membawa perlengkapan berkemah mereka masing-masing dan mendirikan tenda di sepanjang tepi pantai. Suasana tenang dengan suara ombak yang menghampiri menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung untuk berkemah dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat mereka. Biaya berkemah di tempat ini hanya sebesar Rp10 ribu.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati keindahan laut dengan naik perahu yang tersedia untuk disewa. Perahu tersebut mampu mengangkut sekitar delapan hingga belasan orang. Untuk menikmati pesona laut di semenanjung Donggala, pengunjung hanya perlu membayar Rp10 ribu.

Firya (18), seorang pelancong dari Sumatera Barat, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya baru saja tiba di Kota Palu dan mendapatkan rekomendasi untuk mengunjungi desa wisata tersebut.

“Pantainya cantik, lumayan bersih juga. Nanti mau coba naik perahu itu juga, sepertinya menyenangkan,” katanya.

Selain itu, seorang pelancong lainnya bernama Dara (17) juga menyukai tempat wisata tersebut karena air laut dan pantainya yang masih bersih. Dia sedang menikmati liburan bersama keluarganya. Di sekitar pantai, terdapat beberapa warung makan kecil yang menawarkan dange, makanan khas Suku Kaili.

Dange adalah makanan yang terbuat dari sagu yang kemudian dibakar dan diisi dengan berbagai pilihan rasa seperti rono, ikan suwir, dan gula merah, dengan harga Rp5 ribu per porsi. Bagi pengunjung yang ingin beristirahat sambil berbaring, tersedia pula pondok-pondok kecil yang dapat menampung lima hingga enam orang.

Suharman, Manajer Pengelola Desa Wisata Pusat Laut Donggala, menyatakan bahwa wisata tersebut akan mencapai puncak kunjungan saat libur panjang seperti Lebaran. Selama libur Lebaran, jumlah pengunjung dapat mencapai 2.000 orang per hari, yang berbeda dengan hari-hari biasa seperti akhir pekan yang hanya mencapai 500 orang.

Menurut Suharman, tempat wisata tersebut telah dibuka kembali setelah sempat ditutup selama pandemi Covid-19. Ia berharap para pengunjung dapat bersama-sama menjaga kebersihan lokasi wisata tersebut.

Kebersihan merupakan salah satu faktor kunci untuk menjaga keberlangsungan objek wisata dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, termasuk di Pantai Donggala dan Pusentasi.

Pengunjung yang ingin menikmati pemandangan matahari terbenam juga diperbolehkan untuk menginap atau berkemah bersama keluarga di tempat tersebut.

Advertisement div class="td-visible-desktop">