Empat Hari Terjebak Banjir Tanpa Makan, Zulfarida dan Bayinya Kini Temukan Harapan di Rumtara

JAKARTA, KBKNEWS.id — Perjuangan Zulfarida (30), seorang ibu tunggal di Aceh Tamiang, melewati bencana banjir menyisakan pengalaman yang tak mudah dilupakan.

Ia bersama bayi berusia satu tahun bahkan sempat terjebak banjir selama empat hari tanpa makanan dan minuman.

Peristiwa itu terjadi pada November 2025 ketika hujan deras mengguyur Dusun Melati, Kampung Bukit Tempurung, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Saat itu, Zulfarida tengah berjualan bakso di rumah sambil mengasuh tiga anaknya.

Ketika air semakin tinggi, Zulfarida segera menyelamatkan dua anaknya yang berusia 8 dan 6 tahun dengan menitipkan mereka kepada warga sekitar. Namun, ia kembali menerjang arus demi menyelamatkan anak bungsunya yang masih bayi.

Zulfarida kemudian terjebak banjir hingga akhirnya berhasil mencapai lantai atas sebuah ruko sekitar pukul 04.00 WIB. Selama empat hari, ia dan bayinya terisolasi tanpa makanan dan minuman.

Kondisinya semakin memprihatinkan. Tubuh Zulfarida yang lemah membuat produksi ASI-nya terhenti, sementara sang bayi mulai mengalami demam dan muntaber. Dalam kondisi putus asa, ia akhirnya menggendong bayinya menerobos lumpur untuk mencari jalan keluar.

“Tadinya saya sudah putus asa sekali, rasanya tidak mau melakukan apa-apa lagi. Anak-anak bahkan sempat saya ‘liburkan’ dari sekolah,” kenang Zulfarida.

Pasca-banjir, Zulfarida sempat pergi ke Medan untuk meminta bantuan saudara selama dua bulan. Ia kemudian kembali ke Aceh Tamiang dan tinggal sementara di rumah kerabat tanpa memiliki uang.

Harapan mulai muncul ketika kepedulian warga Kampung Durian mempertemukannya dengan bantuan kemanusiaan Dompet Dhuafa.

Di tengah proses pemulihan pascabencana, Dompet Dhuafa menghadirkan program Rumah Sementara atau Rumtara bagi para penyintas, khususnya kelompok rentan yang kehilangan tempat tinggal.

 

Di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Dompet Dhuafa membangun klaster Rumtara sebanyak 117 unit di atas lahan seluas 1,5 hektare. Hunian berukuran 4,8 x 4,8 meter tersebut diperuntukkan bagi penyintas seperti janda, lansia, anak yatim, hingga guru honorer.

Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, mengatakan Rumtara dihadirkan agar para penyintas dapat segera meninggalkan tenda pengungsian dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.

“Melalui Rumtara, Dompet Dhuafa ingin menghadirkan lebih dari sekadar bangunan fisik, kami ingin menghadirkan harapan bahwa setelah bencana, masih ada masa depan yang bisa diperjuangkan,” ujar Shofa.

Kini, Zulfarida dan ketiga anaknya mulai menata kembali kehidupan dari nol setelah menempati salah satu unit Rumtara yang turut didukung mitra kebaikan HMNS.

Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rembesan air ketika hujan deras dan panas saat musim kemarau, hunian tersebut menjadi tempat bagi Zulfarida untuk kembali membangun kehidupan bersama anak-anaknya.

Pemerintah juga telah menyiapkan lahan pelepasan HGU seluas 179 hektare di Aceh Tamiang untuk pembangunan lebih dari 4.000 unit hunian tetap hingga 2027.

Namun, bagi Zulfarida, yang terpenting saat ini adalah memastikan ketiga anaknya tetap bisa bersekolah dan tidak kembali mengalami kesulitan mendapatkan makanan.

“Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak. Jangan sampai mereka putus sekolah, dan jangan sampai mereka merasakan tidak makan lagi,” tutur Zulfarida haru.

Rumtara menjadi titik awal baru bagi Zulfarida dan anak-anaknya. Di balik dinding sederhana rumah sementara itu, tersimpan harapan seorang ibu untuk kembali bangkit dan memastikan masa depan buah hatinya tidak lagi direnggut oleh bencana.

Melalui PRAY FOR SUMATERA, Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu para penyintas banjir Sumatra menata kembali kehidupan mereka.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here