JAKARTA, KBKNEWS.id — Lahan wakaf tak hanya menjadi tempat berdirinya bangunan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.
Hal itu dirasakan Maman (37) dan Tusih (53), dua penerima manfaat yang menemukan jalan baru melalui lahan wakaf di Pesantren Tahfidz Green Lido (PTGL) Dompet Dhuafa, Sukabumi.
Maman sebelumnya bekerja sebagai juru masak di sebuah kafe. Setiap hari ia terbiasa dengan ritme dapur yang cepat dan tuntutan pesanan yang terus berdatangan. Kini, ia memilih mengolah lahan pertanian seluas 1.000 meter persegi di kawasan PTGL dengan menanam berbagai sayuran dan buah-buahan.
Bagi Maman, aktivitas bertani bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suasana hijau dengan latar pegunungan serta lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri membuatnya merasakan ketenangan yang berbeda.
“Dulu di kafe rasanya waktu rapat sekali, harus masak cepat terus. Sekarang bertani di PTGL bikin saya punya waktu lebih untuk belajar. Ilmunya saya praktikkan di rumah, tanam sendiri, hasilnya bisa buat keluarga atau dibagikan ke tetangga. Di sini saya juga merasa lebih tenang,” tutur Maman.
Sementara itu, Tusih telah mengenal dunia pertanian sejak kecil. Warga Desa Cicurug tersebut terbiasa membantu ayahnya bertani sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun, sebelum bergabung dalam program Dompet Dhuafa tiga tahun lalu, ia harus mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kini, Tusih merawat tanaman edamame di lahan PTGL dan memperoleh penghasilan yang lebih stabil.
“Dulu kerja serabutan nggak pernah cukup buat sehari-hari. Alhamdulillah, sejak di sini rezeki cukup, pas dengan kemampuan saya. Sekarang punya penghasilan tetap sendiri,” ungkap Tusih.
Kisah Maman dan Tusih menjadi gambaran bagaimana wakaf produktif dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang. PTGL berdiri di atas lahan seluas dua hektare dan menjadi pesantren pertama berbasis wakaf produktif yang dibangun Dompet Dhuafa sejak 2020.
Setelah sebelumnya mengembangkan melon hidroponik dan baby buncis jenis Kenya di greenhouse seluas 1.600 meter persegi, PTGL kini turut mengembangkan budidaya edamame.
Pada 24 Juli 2026, Dompet Dhuafa juga meluncurkan gerakan Kebun Pangan Madaya di PTGL. Program tersebut menggabungkan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi keluarga, dan edukasi pertanian terapan.
Melalui gerakan ini, pekarangan rumah, kebun komunitas, hingga lahan tidur didorong agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus peluang ekonomi baru.
General Manager Pengembangan Investasi Wakaf Dompet Dhuafa, Ali Bastoni, mengatakan PTGL dikembangkan secara terintegrasi dengan menggabungkan aspek keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
“Aktivitas kebun ini berkelindan langsung dengan isu pangan, keuangan, dan amal usaha pesantren. Kami percaya pengintegrasian ini memperkuat spirit pengembangan kawasan di Lido,” ujar Ali.
Pada akhirnya, lahan wakaf di PTGL tidak hanya menjadi ruang pendidikan dan keagamaan. Melalui pengelolaan produktif, tanah tersebut turut menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar—memberikan kepastian penghasilan bagi Tusih dan menghadirkan ketenangan baru bagi Maman.





