Masih suasana peringatan 71 tahun kemerdekaan Indonesia. 17 Agustus 1945-17 Agustus 2016. Bagi saya sendiri setidaknya ada dua momen yang perlu dicatat sejarah di 71 tahun kemerdekaan ini.
Ini menjadi persembahan terbaik untuk bangsa.
Pertama, raihan medali emas pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro Brasil yang didapat oleh pebulutangkis ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Puluhan juta mata tertuju saat detik-detik final, hingga lagu Indonesia Raya berkumandang di sana. Kita haru dan menangis suka cita.
Itu menjadi satu-satunya medali emas yang kita boyong pulang dari arena olahraga internasional itu.
Hebatnya lagi kabar gembira itu datang di menit-menit akhir pergantian tanggal 17 Agustus menuju 18 Agustus, atau tepatnya pada pukul 23.57 WIB, tiga menit sebelum pergantian tanggal.
Kepulangan keduanya disambut gegap gempita. Saya turut bangga atas prestasi dua anak bangsa itu.
Kedua, menutup bulan Agustus tahun ini, tepatnya tanggal 31 Agustus 2016 Dompet Dhuafa menerima penghargaan Ramon Magsaysay dari Pemerintah Filipina.
Beberapa jam menjelang bulan berganti ke September, tepatnya pukul 15.00 WIB, Rabu (31/8/2016), Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail Agus Said, didampingi Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi 2013-2016, Ahmad Juwaini, menerima Ramon Magsaysay Award 2016 dari Wakil Presiden Filipina Maria Leonor Robredo di Cultural Centre of Philippine, Manila. Saya sangat bangga karena menjadi bagian dari Dompet Dhuafa.
Penghargaan Ramon Magsaysay ini sangat bergengsi. Penghargaan ini diambil dari nama Ramon Magsaysay Presiden ke-7 Filipina, merupakan salah satu penghargaan utama di Asia untuk menghargai jiwa sosial dan pemimpin yang mampu melakukan perubahan besar di tingkat Asia.
Dalam 50 tahun terakhir, sebanyak 300 orang dan lembaga yang melayani tanpa pamrih serta memberikan solusi bagi masyarakat Asia telah diganjar penghargaan.
Selain Dompet Dhuafa, penerima penghargaan Ramon Magsaysay Award 2016 lainnya adalah musisi Thodur Madabushi Krishna (India), aktivis sosial Wilson Bezwada (India), aktivis anti korupsi Conchita Carpio Morales (Filipina), Vientiane Rescue (Laos), dan Japan Overseas Cooperation Volunteer (Jepang).
Dompet Dhuafa sendiri hadir membangun bangsa ini sudah 23 tahun. Sebagai lembaga zakat yang fokus menangani masyarakat miskin. Zakat, infak, sedekah wakaf menjadi basis dana publik yang dikelola dan disalurkan.
Sejak berdiri tahun 1993 hingga pertengahan tahun ini sudah 13 juta orang masyarakat yang dibantu. Utamanya kebutuhan dasar masyarakat; ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Kurun waktu lima tahun belakangan ini dana yang dihimpun mencapai Rp. 1,5 triliun.
Sebagai lembaga profesional Dompet Dhuafa juga mengantongi sertifikasi ISO.
Penghargaan atau award bukan tujuan perjuangan kami di Dompet Dhuafa. Visi besar kami adalah bagaimana masyarakat miskin bisa lebih berdaya dan mandiri. Mendapatkan hak hidup yang layak. Menyoal kemiskinan, ini adalah lingkaran setan. Ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, spiritual dan moral.
Butuh kerja keras mengurainya dalam perencanaan dan kerja yang matang. Kerja sosial tak akan terhenti ketika penghargaan diterima.
Setiap penghargaan yang kami terima, kami persembahkan untuk para donatur, mitra dan masyarakat miskin.
Penghargaan adalah lecutan semangat juang menghadapi besarnya tantangan di masa depan. (*)
Musfi Yendra
Pembina Dompet Dhuafa Singgalang





