
JAKARTA – Seorang mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI) bernama Muhammad Naufal Zidan ditemukan tewas dengan kondisi mengerikan. Jenazah Naufal ditemukan terbungkus dalam kantong plastik sampah dan diletakkan di bawah kasur kamar kosnya, di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat.
Pelaku pembunuhan Naufal adalah seniornya bernama Altafasalya Ardnika Basya. Ardnika telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Akibat perbuatannya, Altafasalya terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup berdasarkan Pasal 340 dan/atau 338 dan/atau 365 ayat 5.
“Pelaku telah lama memiliki pisau yang digunakan dalam tindakan kejahatan tersebut. Ancaman hukuman bagi pelaku adalah mati atau penjara minimal selama 20 tahun,” kata Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Depok, AKP Nirwan Pohang.
Berikut adalah beberapa fakta terkait kasus pembunuhan Naufal oleh seniornya:
- Sempat Melawan hingga Cincin Tertelan
Saat terjadi aksi pembunuhan, korban sempat melakukan perlawanan sehingga cincin pelaku tertelan dan nyangkut di tenggorokan.
Nirwan membenarkan, kata dia, saat peristiwa pembunuhan tersangka mendapatkan perlawanan dari korban. Korban sempat menggigit tangan tersangka. Cincin yang dikenakan tersangka tertelan korban dan masuk ke dalam kerongkongan korban.
“Cincin tersangka tertelan dan tertinggal di kerongkongan korban, lalu tersangka menusuk korban dari belakang,” katanya.
- Terinspirasi Serial Narcos
Altafasalya, pelaku pembunuhan, mengaku terinspirasi serial Narcos saat menghilangkan nyawa adik kelasnya.
“Saya dari nonton film tapi tidak sengaja, Narcos,” kata Altafasalya saat konferensi pers di Polres Depok.
Narcos merupakan serial Netflix mengenai gembong narkoba di Amerika Latin, salah satunya Pablo Escobar. Terdapat adegan pembunuhan pada serial itu.
Meski mengaku terinspirasi Narcos, Altafasalya tidak membeberkan detail terkait hal itu. Ia hanya memastikan sempat menusuk Naufal berulang kali.
- Bingung Cara Kubur Korban
Naufal dibunuh di kamar kosnya di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok. Pembunuhan terjadi pada Rabu (2/8/2023), sekitar pukul 18.30 WIB.
Saat itu, korban dan pelaku sama-sama baru pulang dari kampus. Dengan menggunakan motor miliknya, pelaku mengantarkan korban ke kosnya.
“Pada hari Rabu itu sepulang kuliah, karena memang antara korban dan pelaku sudah berteman, dia datang ke kos, terjadi peristiwa ini,” kata Nirwan.
Turun dari motor, korban dan pelaku menuju kamar. Namun, pelaku sempat kembali ke motor untuk mengambil pisau yang kemudian disembunyikannya di kantong celana.
Pembunuhan terjadi ketika belakangan pelaku pura-pura pamit pulang. Dalam posisi membuka pintu, korban ditendang pelaku yang kemudian menusuknya.
“Ada sekitar 10 tusukan, ada di leher, di dada,” ujar Nirwan.
Korban sempat melawan dengan menggigit tangan pelaku. Pelaku kemudian mendorong tangannya yang sedang digigit itu hingga korban terjungkal.
“Setelah itu pelaku melakukan penusukan berulang,” ujar Nirwan.
- Mayat Dibungkus Kantong Plastik Hitam
Nirwan mengungkapkan, setelah tersangka menusuk korban menggunakan pisau lipat, pelaku sempat meninggalkan kamar kos tersebut. Ia kembali keesokan harinya, Kamis (3/8/2023), dengan membawa kantong plastik hitam (trash bag) beserta kapur barus untuk menghilangkan bau amis.
Tersangka kemudian membungkus mayat korban menggunakan kantong plastik hitam. Setelah terbungkus, mayat korban disimpan di kolong tempat tidur.
“Dari saat itu orang tua korban tidak dapat menghubungi korban,” kata Nirwan.
Karena korban tidak dapat dihubungi, orang tua mahasiswa UI itu meminta paman korban yang tinggal di Cempaka Putih untuk datang ke kos korban. Sesampainya di sana, kamar korban terkunci dan meminta bantuan penjaga kos.
“Kamar kos terkunci, pamannya meminta penjaga untuk membuka pintu kamar kos korban,” ujar Nirwan.
Setelah dibuka, paman korban melihat bungkusan hitam berada di bawah tempat tidur. Saat bungkusan tersebut ditarik, keluarlah kaki manusia sehingga paman korban kaget dan lari keluar kamar.
“Saat ditarik ternyata kaki manusia sehingga dia kaget lari keluar, langsung lapor,” kata Nirwan.
- Bawa Barang Berharga Korban
Nirwan mengatakan bahwa Polres Metro Depok mendapati pengakuan dari tersangka usai membunuh korban. Tersangka yang juga mahasiswa UI itu membawa barang berharga milik korban dari kamar kosnya.
“Tersangka ini membawa MacBook, handphone Iphone, dan dompet korban,” ujar Nirwan kepada Liputan6.com, Jumat (4/8/2023).
- Utang Pinjol Usai Rugi Kripto Rp80 Juta
Nirwan menjelaskan, pelaku mengalami kerugian investasi online kripto. Dia bermain kripto dan mengalami kerugian banyak sehingga banyak utang, termasuk utang pinjol.
“Bahkan, ke korban pun sempat dia pinjam uang, tapi sudah dikembalikan,” kata Nirwan.
“Karena dia didesak oleh utang itu, sehingga dia terpikir ingin menguasai barang-barang korban untuk menyelesaikan utangnya,” sambungnya.
Berdasarkan pengakuan, pelaku dan korban adalah teman yang cukup dekat. Bahkan keduanya sama-sama bermain kripto.
“Iri mungkin bisa jadi ada, kan, pengakuan si pelaku, tahun sebelumnya dia juga berhasil, dapat untung [dari kripto]. Namun di tahun ini sejak Januari, dia rugi terus, rugi terus,” kata Nirwan.
Pelaku melihat korban lebih berhasil meraup untung dalam bermain kripto. Selain itu, korban dinilai mempunyai banyak barang-barang mahal.
Alhasil, timbul niat untuk mengambil barang korban hingga akhirnya pembunuhan dilakukan. Laptop Macbook, hp, hingga ATM sempat diambil.
Pelaku sempat mencoba ambil uang di rekening korban melalui ATM. Namun karena tidak tahu nomor PIN, kartu tersebut diblokir karena beberapa kali salah memasukkan nomor PIN.
- Mengaku Hopeless Banyak Utang
Altafasalya mengungkapkan alasannya membunuh Naufal, adik tingkatnya. Katanya, dia hopeless dalam menyelesaikan utangnya.
“Saya sudah hopeless, saya sudah enggak nemu jalan yang terang untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Saya coba berbagai cara, terakhir ini (membunuh korban),” kata Altafasalya.
Altafasalya menyatakan dirinya tak punya dendam dengan korban. Niat membunuh murni untuk menguasai harta korban demi membayar utang pinjol.
“Saya tidak ada masalah dengan korban, tidak ada dendam karena saya sudah putus asa juga, rencana baru muncul pas saya nganter pulang di hari Rabu sebelum kejadian,” tuturnya.
- Tiap Tidur Dihantui Korban
Selama dua hari usai pembunuhan, pelaku mengaku belum sempat menjual barang-barang korban karena mimpi buruk.
“Belum sempat, niatnya memang mau dijual tapi belum sempat menjual, karena pelaku ini sejak kejadian itu apabila dia tertidur dia mimpi langsung korban dateng ingin membunuh dia,” kata Nirwan.
“Makanya dia tidak ada lagi sempat berpikiran untuk menjual. Dia dikejar bayangan terus trauma itu,” sambungnya.
Pelaku membunuh korban dengan maksud menguasai harta. Pelaku berpikir korban yang sukses dengan bisnis kripto itu mempunyai harta yang bisa melunasi utangnya.
- UI Serahkan Kasus Pembunuhan ke Polisi
Universitas Indonesia (UI) menyerahkan penanganan kasus pembunuhan terhadap mahasiswanya ke pihak kepolisian.
Kepala Biro Humas dan Keterbukaan Informasi Publik Universitas Indonesia, Amelita Lusiana, mengucapkan turut berbelasungkawa terhadap keluarga korban. Amelita mengakui pelaku dan korban merupakan mahasiswa UI.
“Ya, mahasiswa kami,” ujar Amelita melalui pesan singkatnya, Jumat (4/8/2023), dikutip dari liputan6.com.
UI menyerahkan kasus pembunuhan antara korban dengan tersangka ke Polres Metro Depok yang menangani kasus tersebut. Amelita mengatakan, kampus akan membantu Polres Metro Depok apabila dibutuhkan.
“Kami sepenuhnya menyerahkan penanganan kasus ini kepada pihak yang berwenang, sementara kami hanya bisa menjawab demikian untuk saat ini,” ujar Amelita.




