Rupiah Tertekan Faktor Domestik: INDEF Ingatkan Risiko Penurunan Daya Saing Industri

INDEF sebut pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh badai eksternal, tetapi juga kerentanan domestik yang harus diantisipasi pemerintah. (Foto: pixabay)

JAKARTA, KBKNews.id – Nilai tukar Rupiah kini tengah berada dalam pusaran tekanan yang cukup berat. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan peringatan serius, pelemahan mata uang Garuda tidak hanya dipicu oleh badai eksternal, tetapi juga kerentanan dari sisi domestik yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai jika depresiasi ini dibiarkan berlarut-larut, dampak negatifnya akan menjalar ke berbagai sektor ekonomi nasional secara luas. Salah satu yang paling terancam adalah sektor manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku luar negeri.

“Kondisi ini menekan daya saing industri nasional secara signifikan. Para pelaku usaha kini harus menghadapi lonjakan biaya operasional akibat fluktuasi kurs global yang tidak menentu,” ujar Rizal dalam sebuah dialog daring pada Kamis (16/4/2026).

Urgensi Sinergi Fiskal-Moneter dan Intervensi Pasar

Menghadapi situasi ini, INDEF mendesak adanya koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dari pemerintah dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia. Fokus utamanya adalah mencegah terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) secara masif yang bisa memperparah kelangkaan dolar di dalam negeri.

Rizal menekankan, Bank Indonesia perlu memastikan pasokan valuta asing tetap terjaga di pasar agar likuiditas tidak kering.

“Intervensi pasar valuta asing harus dilakukan secara terukur dan tepat sasaran. Tujuannya satu, yakni menjaga agar likuiditas dolar tetap tersedia di dalam negeri sehingga pasar tidak panik,” ucapnya tegas.

Jurus Mempertebal Cadangan Devisa: Devisa Ekspor dan Ekspor Kuat

Selain intervensi langsung, INDEF mendorong pemerintah untuk lebih tegas dalam mengelola Devisa Hasil Ekspor (DHE). Para eksportir diminta untuk lebih banyak memarkirkan dolar hasil penjualannya di dalam negeri guna memperkuat bantalan cadangan devisa nasional.

Menurut Rizal, penguatan industri berorientasi ekspor bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menciptakan stabilitas nilai tukar yang berkelanjutan. Semakin kuat ekspor kita, maka pasokan mata uang asing akan semakin melimpah, yang pada akhirnya memberikan tenaga bagi Rupiah.

Siasat Pelaku Usaha: Lindung Nilai dan Substitusi Impor

Di sisi pelaku usaha, INDEF menyarankan penerapan strategi “lindung nilai” (hedging) untuk meminimalkan kerugian akibat selisih kurs. Namun, solusi jangka panjang yang paling efektif adalah dengan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri.

“Penggunaan komponen dalam negeri harus terus ditingkatkan oleh para pelaku bisnis. Langkah substitusi impor sangat krusial untuk memperkuat ketahanan industri nasional dari guncangan global,” jelas Rizal.

Reformasi Struktural dan Diversifikasi Mata Uang

Sebagai langkah strategis masa depan, INDEF juga menyarankan agar Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Diversifikasi mata uang atau penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement) dinilai dapat menjadi perisai tambahan bagi Rupiah.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi jangka panjang memerlukan fondasi yang kuat berupa kepastian regulasi investasi dan reformasi struktural. Tanpa adanya jaminan hukum yang jelas bagi investor, aset domestik akan kehilangan daya tariknya, yang pada gilirannya akan kembali membebani posisi nilai tukar kita di mata dunia.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here