JAKARTA – Gagal menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) tentu dapat memengaruhi kesejahteraan mental seseorang. Wajar, mengingat, biaya pencalonan tidak sedikit. Permasalahan finansial tentu dapat menimbulkan tekanan pada kehidupan seseorang.
Menurut Dicky C. Pelupessy, Pakar Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia, mengelola pikiran menjadi kunci bagi para caleg yang mengalami stres dan kecewa setelah pemilu. Dia menekankan perlunya pemahaman bahwa ikut dalam kompetisi politik membawa kemungkinan kemenangan atau kekalahan.
“Bisa dimulai seperti ini, ya. Misalnya, dengan pengertian bahwa namanya mengikuti kompetisi, ada kemungkinan menang, ada kemungkinan kalah. Itu satu contoh bahwa yang dilakukan adalah mengelola pikiran kita,” kata Dicky dilansir dari Antara.
Berbicara dengan keluarga, teman, dan pendukung politik setelah pemilu dapat membantu melepaskan tekanan dan mendapatkan dukungan emosional yang diperlukan.
Selain itu, melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti olahraga, meditasi, atau menikmati hobi dapat membantu menjaga kesehatan mental dan mengalihkan pikiran dari kekecewaan.
Hal yang krusial adalah menetapkan prioritas dan fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, seperti melanjutkan karier atau mengembangkan keterampilan baru.
Dengan cara ini, para caleg dapat mengalihkan perhatian dari kegagalan politik dan memulai kembali dengan semangat baru.
Jika merasa sulit mengelola stres dan emosi, mencari bantuan dari ahli psikolog atau konselor dapat memberikan dukungan dan saran yang diperlukan.
Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan para caleg yang mengalami kegagalan dapat mengatasi stres pascapemilu dengan lebih baik dan melanjutkan kehidupan dengan semangat baru.
“Rumus sederhananya adalah mengelola pikiran dan stabilkan emosi. Mungkin sulit karena masih hangat, tapi coba jangan buka berita atau sosial media agar kecewa dan stresnya perlahan mereda. Intinya kemudian memang perasaan itu, kita stabilkan,” kata Dicky.





