Gejolak di Negeri para Mullah

Sejumlah kota-kota di Iran dilanda aksi unjukrasa (29/12) bermula dari persoalan ekonomi, merembet ke ranah politik

BERMULA dari frustrasi akibat terhimpit kesulitan ekonomi dan kekesalan pada dugaan korupsi di lingkungan birokrasi, rakyat di sejumlah kota di Iran menggelar aksi protes yang dirsepons keras oleh aparat keamanan.

TV pemerintah Iran, Senin (1/1) melaporkan 12 pengunjukrasa  tewas di kota Tuyserkan di Provinsi Hamadan dan Izeh di Provinsi  Khuzestan dalam kerusuhan terburuk di sejumlah kota yang terjadi sejak 2009.

Aksi massa yang pecah di sejumlah kota di Iran pada Kamis tahun lalu (28/12) diikuti puluhan ribu orang untuk menentang elite politik dan pemerintah negara itu.

Aparat kepolisian dilaporkan diturunkan di sudut-sudut jalan di  jantung kawasan ibukota, di Teheran  dan menangkapi sejumlah pemuda yang diduga berniat melancarkan aksi unjukrasa.

Satuan keamanan juga berupaya melokalisir agar tidak terjadi eskalasi kerusuhan, sementara pemerintah menutup akses media sosial telegram dan Instagram yang digunakan oleh sekitar separuh dari 80 juta penduduk Iran.

Menteri Komunikasi Iran Mohammad-Javad Jahromi menuding kedua jaringan medsos tersebut berupaya memprovokasi massa untuk melancarkan pemberontakan bersenjata dan melakukan aksi kerusuhan.

Media setempat juga menampilkan tayangan aksi unjuk rasa oleh sekelompok anak-anak muda yang sedang menyerang sebuah bank, membakar kendaraan  dan juga bendera Iran.

Aksi-aksi yang semula bertemakan kesulitan ekonomi dan dugaan korupsi para pejabat pemerintah berkembang ke ranah politik setelah mereka juga menuntut rezim yang berkuasa lengser.

Akumulasi kekesalan publik tampaknya memicu mereka berani menyebut-nyebut era kejayaan Iran di bawah dinasti Raja Reza Shah Pahlevi (1925 sampai 1941) yang  berakhir dengan tumbangnya Mohammad Pahlevi oleh revolusi yang dilancarkan Ayatollah Khomeini pada 1979.

Sebaliknya, Presiden Hassan Rouhani dalam pernyataannya menyebutkan,  bangsa Iran akan merespons dengan tegas perusuh dan aksi pelanggaran hukum walau ia menganggap,  kritik dan protes adalah hak rakyat, bukan suatu ancaman.

Namun pada keempatan lain Rouhani menyebutkan, pengunjuk rasa telah menodai nilai-nilai dan kesucian revolusi Iran .  “Hak rakyat untuk menggelar aksi protes, namun kekerasan, apa pun bentuknya tidak bisa diterima, “ ujarnya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya pada pengunjukrasa, namun sebaliknya Rouhani menuduh Trump  selalu menciptakan permusuhan terhadap rakyat Iran sejak ia melangkah ke Gedung Putih (jadi presiden-red).

Persahabatan antara AS dan  Iran yang cukup hangat dan mesra di era pemerintahan Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi, memburuk pasca Revolusi Iran pada 1979, bahkan keduanya melakukan pemutusan hubungan diplomatik.

“Rezim penguasa silih berganti, euforia revolusi menyepi, dan tuntutan baru rakyat pun mulai bersemi”

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement